Dalam pos

PorosBekasi.com – Dorongan untuk tampil memukau di hadapan orang lain sering kali membuat seseorang mengabaikan kenyataan finansialnya. Demi menjaga penampilan di mata tetangga atau kerabat, tak sedikit yang rela memaksakan kehendak, walau kondisi keuangan sedang sekarat.

Fenomena ini bukan hal baru. Mengutip CNBC, Sabtu, 19 Juli 2025, pada awal Mei 1932, sebuah tragedi rumah tangga terjadi di kawasan Tanjung Priok, Jakarta. Seorang istri bersikeras ingin membeli pakaian baru untuk menghadiri acara keagamaan, termasuk pengajian dan perayaan Lebaran.

Namun, keinginannya ditolak oleh sang suami, Telo bin Saleh, yang sedang kesulitan ekonomi. Kala itu, Indonesia sedang terjerembap dalam krisis ekonomi global yang dikenal sebagai masa Malaise.

Krisis yang dimulai sejak 1930 membuat harga kebutuhan pokok melambung tinggi, angka pengangguran meroket, dan kemiskinan merajalela.

Pemerintah kolonial saat itu pun dianggap gagal merespons situasi. Sejarawan Onghokham dalam Runtuhnya Hindia Belanda (1987) mengungkapkan, bahwa pemerintah enggan melakukan pembenahan ekonomi, seperti mendevaluasi Gulden, langkah yang diambil oleh sejumlah negara lain.

Akibat kebijakan yang stagnan, krisis terus berlanjut hingga sembilan tahun lamanya, dari 1930 sampai 1939. Rakyat dibuat sengsara. Termasuk Telo, yang berjuang keras mencukupi kebutuhan harian keluarga dengan serba keterbatasan.

Namun, sang istri tak peduli. Diberitakan oleh de Indische Courant edisi 9 Mei 1932, perempuan itu terus meminta uang untuk membeli pakaian baru, meskipun berkali-kali ditolak. Telo bahkan telah menyarankan agar istrinya memakai baju lama yang masih layak pakai.

Baginya, uang yang sedikit lebih baik dialokasikan untuk belanja harian ketimbang memenuhi keinginan sesaat. Tapi sang istri tetap bersikukuh. Tekanan sosial untuk tetap tampil baik di depan publik, mengalahkan logika ekonomi.

Hingga akhirnya, konflik berkepanjangan itu meledak. Dalam laporan lanjutan de Indische Courant pada 15 Mei 1932, disebutkan bahwa cekcok hebat kembali terjadi. Kali ini, sang istri melontarkan hinaan yang menyinggung kondisi ekonomi mereka.

Telo yang tersulut amarah pun kehilangan kendali. Ia mengambil sebilah pisau dan menghujamkannya ke tubuh istrinya. Darah berceceran. Sang istri tewas di tempat. Kejadian itu mengejutkan warga Tanjung Priok. Polisi segera datang dan menangkap Telo.

Peristiwa tragis ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya hidup sesuai kemampuan. Menyesuaikan gaya hidup dengan kondisi dompet bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan. Apalagi dalam masa sulit, sikap bijak menjadi penentu keberlangsungan hidup.

Porosbekasicom
Editor