Ketika suhu politik nasional kerap mengeras, Megawati justru mengingatkan kader dan publik untuk menjunjung etika terhadap para pemimpin bangsa.
Hal ini tersirat dalam sambutannya pada sekolah calon legislatif PDI Perjuangan, 15 November 2018 silam.
“Waktu ayah saya dijatuhkan dengan cara yang tidak beretika, saya bilang jangan hujat Pak Harto,” tegas Megawati kala itu.
Pernyataan tersebut menjadi simbol, bahwa Megawati menolak pendekatan politik berbasis dendam atau kebencian.
Politisi senior PDI Perjuangan, Panda Nababan, menegaskan bahwa Megawati tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap Soeharto.
Narasi yang menyebut adanya permusuhan ideologis antara keduanya, dianggap sebagai interpretasi yang tidak sesuai dengan fakta sejarah.
Pertemuan-pertemuan hangat antara Megawati dan Tutut memperlihatkan bahwa kedekatan personal tetap terjaga, meski kedua keluarga berada dalam lingkungan politik yang berbeda.
Banyak pengamat menilai bahwa hubungan mereka mencerminkan kematangan politik, berkompetisi tanpa memutus ruang rekonsiliasi.
Dalam konteks politik masa kini, relasi Soeharto–Megawati menjadi contoh, bahwa perbedaan ideologis tidak harus berujung pada permusuhan, melainkan dapat menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang lebih dewasa dan beradab.







Tinggalkan Balasan