PorosBekasi.com – Krisis sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu kian mengkhawatirkan. Zona pembuangan yang telah mencapai ketinggian 15–20 meter ini tak lagi memadai untuk menampung lebih dari 1.500 ton sampah per hari.
Kondisi menumpuk di atas batas wajar bahkan sempat memicu longsor usai hujan deras, merusak fasilitas, dan menutup akses jalan di sekitar lokasi.
Dosen Universitas Islam 45 Bekasi, Harun Al Rasyid, menilai persoalan ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan masalah mendasar pada kesadaran warga dalam memilah sampah sejak dari rumah.
“Model link pengelolaan sampah berbasis RW atau hulu harus serentak dan konsisten dilaksanakan sehingga di tingkat hilir berlangsung mudah,” ujarnya, Minggu 10 Agustus 2025.
Harun menegaskan, penanganan harus komprehensif, melibatkan publik, dan disertai intervensi kepala daerah yang berkomitmen kuat. Ia mendorong penerapan sanitary landfill untuk mengurangi risiko longsor, kebakaran, serta dampak kesehatan warga sekitar, sambil membuka area pembuangan baru.
Bagi Harun, Pemkot Bekasi perlu melangkah lebih berani dengan teknologi tinggi yang mampu mengolah 1.500 ton sampah harian menjadi zero waste sekaligus merecovery ratusan ribu ton tumpukan lama.
Dari berbagai kajian, menurutnya, Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) menjadi opsi paling realistis, meski ada tantangan harga jual listrik yang lebih mahal dibanding tarif normal PLN.
“Misal, PLN biasanya beli per-KWH seribu rupiah, menjadi Rp1.500, kan khawatir jadi temuan kenapa membeli yang lebih mahal,” jelasnya, dikutip dari akun Seputaran Kelurahan Sumurbatu Bantargebang.
Harun mengusulkan, akan lebih bijak jika listrik, BBM, atau gas hasil olahan sampah itu digratiskan untuk masyarakat. Ia juga mendorong Pemkot Bekasi menggandeng perguruan tinggi untuk kajian menyeluruh agar pengelolaan sampah tak lagi terjebak solusi tambal sulam.






Tinggalkan Balasan