Dalam pos

Seperti kita ketahui, saat ini Kejaksaan Agung tengah menangani perkara korupsi PT Minyak dan Gas (PT Migas) Kota Bekasi. Bukan tidak mungkin Tri Adhianto bisa terseret dalam kasus ini, mengingat PT Migas merupakan perusahaan plat merah atau BUMD milik Pemkot Bekasi.

Sebagai Kepala Daerah yang secara otomatis menjadi Kuasa Pemilik Modal (KPM) BUMD di daerahnya, bisa saja Tri memiliki keterkaitan dalam kasus korupsi PT Migas yang saat ini tengah ditangani Kejaksaan Agung.

Kita sedang tidak menuduh, apakah Tri Adhianto melakukan praktik korupsi. Tapi perlu diingat, definisi korupsi itu sendiri luas. Bukan soal mencuri uang negara saja.

Seseorang bisa disebut korupsi, apabila dengan jabatanya membuat sebuah kebijakan atau keputusan yang mengakibatkan negara merugi juga masuk kategori perbuatan korupsi.

Atau karena kewenangannya, memperkaya orang lain sehingga negara merugi itu juga sama halnya dengan korupsi.

Sedangkan kita tahu, bahwa dalam perkara PT Migas Kota Bekasi, jelas ada kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp2 triliun. Kerugian ini jelas tidak lahir begitu saja, bisa saja ini lahir dari sebuah kebijakan yang keliru dari kepala daerah.

Dan jika memang, Tri tengah mencari perlindungan mengapa ia harus menjadikan Megawati dan PDI Perjuangan sebagai tamengnya.

Jawabannya sederhana, Megawati dan PDI Perjuangan saat ini adalah salah satu kekuatan politik besar di Indonesia. Sekalipun tidak sedang memegang kekuasan eksekutif, namun keduanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan sekelas Presiden Prabowo Subianto saja harus mengkalkulasi ulang jika harus bersinggungan dengan Megawati dan PDI Perjuangan.

Tri Adhianto nampaknya sadar kekuatan Megawati dan PDI Perjuangan. Oleh karena itu, Tri dengan beragam upaya dan dibantu dengan banyak tangan mencoba membangun keterhubungan dengan Megawati dan PDI Perjuangan.

Dengan membangun keintiman dengan Megawati dan PDI Perjuangan, ia ingin publik mengasosiasikan dirinya dengan dua instrumen politik tersebut. Sehingga dengan begitu, Megawati dan PDI Perjuangan bisa menjadi perisai atau tameng bagi dirinya.