Dalam pos

Oleh: Deni Iskan Wartawan Bekasi

 

Di atas kertas, ini hanya soal memilih ketua baru. Mengganti nahkoda. Lalu menjalankan kembali mesin organisasi.

Tapi politik tidak pernah berhenti pada apa yang tertulis di agenda.

Musda kali ini mulai menjadi bola liar. Pembicaraannya sudah jauh melampaui siapa yang akan duduk sebagai ketua. Nama-nama yang muncul mulai dikaitkan dengan pertarungan politik 2029.

Dua nama paling sering disebut adalah Ade Puspitasari dan Ranny Fahd Arafiq

Dua-duanya perempuan. Dua-duanya punya pengalaman politik. Dan dua-duanya punya modal untuk bertarung.

Ade adalah anak Bekasi. Tumbuh dan besar di kota ini. Ia juga sudah dua periode menjadi anggota DPRD Jawa Barat.

Ranny datang sebagai warga pendatang. Tetapi karier politiknya juga tidak kecil. Kini ia duduk sebagai anggota DPR RI.

Di sinilah menariknya.

Ade punya modal sebagai putri daerah. Ranny punya modal sebagai politisi yang sekarang berada di Senayan.

Ade disebut mendapat dukungan dari banyak anak muda. Ada semacam kebanggaan ketika kader asli daerah punya kesempatan memimpin partai besar di daerahnya sendiri.

Tetapi politik bukan hanya soal siapa yang paling dikenal.

Ada kekuatan yang bekerja di belakang layar.

Ada kabar bahwa penguasa di Kota Bekasi tidak menginginkan Ade menjadi ketua. Kabar itu pula yang kemudian memunculkan dugaan adanya dukungan kepada Ranny dari lingkaran wali kota.

Benar atau tidak, tentu hanya mereka yang berada di dalamnya yang tahu.

Yang menjadi menarik adalah munculnya cerita soal delapan kursi Golkar di DPRD Kota Bekasi.

Ada kecenderungan para pemegang suara belum berani secara terbuka mendukung Ade. Kalau benar ketakutan itu muncul karena tekanan, maka persoalannya bukan lagi sekadar siapa menang dan siapa kalah dalam Musda.

Partai harus bertanya: apakah kader masih bebas menentukan pilihan?

Musda seharusnya menjadi tempat kader memilih pemimpin terbaik. Bukan tempat kader menghitung siapa yang harus ditakuti setelah pilihan dijatuhkan.

Tidak perlu diarahkan.

Tidak perlu ditekan.

Biarkan suara berbicara.

Sebab Golkar Kota Bekasi tidak hanya sedang memilih seorang ketua. Partai ini sedang menentukan bagaimana wajahnya menghadapi pertarungan politik berikutnya.

Siapa pun yang menang, tantangannya sama. Menyatukan kader. Menghilangkan sekat.

Dan memastikan mesin partai tetap berjalan. Sebab Musda hanya berlangsung sehari. Tetapi dampaknya bisa sampai 2029.

Jumat 4 September 2026

 

Disclaimer: opini ini di luar tanggung jawab redaksiÂ