POROSBEKASI.COM – Kabar mengenai rencana akuisisi saham PT Bank Central Asia Tbk (BCA) oleh pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, telah ditegaskan sebagai informasi yang tidak benar oleh pihak perseroan. Klarifikasi tersebut disampaikan setelah isu beredar di media sosial.
Namun, penjelasan BCA justru mendapat tanggapan dari Koordinator Aliansi Seniman Ngeyel Indonesia (ASNI), Pamit Andrianto. Ia menilai cara manajemen merespons kabar tersebut menimbulkan pertanyaan tersendiri, terutama terkait sikap jajaran komisaris dan direksi terhadap sosok Haji Isam.
Pamit menilai bantahan yang disampaikan BCA tidak sekadar menjadi klarifikasi atas informasi yang beredar. Menurut dia, respons tersebut juga memperlihatkan kesan bahwa manajemen memberikan reaksi secara terburu-buru ketika nama Haji Isam dikaitkan dengan kemungkinan kepemilikan saham BCA.
“Bantahan ini memperlihatkan pihak jajaran komisaris dan direksi merasa tidak senang atau tidak suka kepada sosok Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam,” ujar Pamit Andrianto dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).
Ia kemudian membandingkan cara BCA menyampaikan bantahan dengan komunikasi yang semestinya dilakukan sebuah perusahaan terbuka. Pamit menilai penjelasan terkait isu aksi korporasi seharusnya disampaikan secara tenang dan meyakinkan, bukan dengan respons yang menurutnya terlihat tergesa-gesa.
“Lihat saja cara mereka membantah. Bukan nada bicara dengan tenang dan meyakinkan, tetapi tergesa-gesa, berapi-api, seolah ada yang ingin diusir dari komisaris atau direksi sebelum sampai di depan pintu,” kata Pamit.
Menurutnya, pernyataan Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, tidak berhenti pada klarifikasi resmi mengenai rumor aksi korporasi.
Ia menilai pernyataan tersebut juga dapat menimbulkan persepsi mengenai adanya ketidaksukaan terhadap kemungkinan Haji Isam masuk dalam struktur kepemilikan BCA.
Pamit lalu menggunakan perumpamaan rumah pribadi untuk menggambarkan respons BCA terhadap rumor tersebut. Ia mengaitkannya dengan status BCA sebagai perusahaan terbuka yang sahamnya dimiliki oleh para pemegang saham.
“Seolah-olah BCA itu rumah pribadi yang baru saja mendengar tamu yang tidak diundang berjalan mendekat. Padahal di papan nama tertulis, BCA adalah perseroan terbuka, milik semua pemegang saham,” ujarnya.
Ia berpendapat bahwa status sebagai perseroan terbuka membuat BCA perlu menyikapi setiap isu mengenai kepemilikan saham ataupun aksi korporasi melalui komunikasi yang profesional.
Menurutnya, penjelasan kepada publik juga tidak semestinya memberikan kesan bahwa ada pihak tertentu yang tidak dikehendaki.
“Kalau Haji Isam datang membawa uang yang sah, kenapa harus ditolak? Apakah uangnya beda warna? Atau mereka takut ada yang ikut memeriksa isi kekayaan BCA di lemari besi?” sindirnya.
Pamit menduga sikap keras dalam membantah rumor tersebut mungkin berkaitan dengan kekhawatiran mengenai kenyamanan yang selama ini ada di lingkungan internal BCA. Meski demikian, ia tidak menyertakan bukti yang dapat memastikan dugaan tersebut.
Selain itu, Pamit menyinggung apa yang disebutnya sebagai aturan tidak tertulis dalam dunia bisnis.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat akses menuju lingkaran kepemilikan perusahaan besar tidak selalu terbuka secara sama bagi setiap orang.
“Memang di dunia bisnis kita, ada aturan tidak tertulis. Beberapa orang boleh kaya, tetapi tidak semua orang boleh masuk. Haji Isam sepertinya tidak membaca daftar tamu yang diizinkan. Maka pintu tertutup oleh Bank BCA sebelum diketuk,” tuturnya.
Pamit selanjutnya mempertanyakan posisi BCA dalam menghadapi rumor tersebut. Ia mempertanyakan apakah kabar mengenai masuknya Haji Isam dalam kepemilikan saham benar-benar dipandang sebagai ancaman atau justru dianggap mengganggu karena berpotensi menghadirkan figur baru di lingkungan perusahaan.
“Apakah BCA benar-benar terancam, atau hanya merasa terganggu karena ada sosok baru yang tidak main sesuai aturan main Bank BCA yang belum diketahui publik?” sindirnya.
Menurut Pamit, persoalan tersebut seharusnya menjadi momentum bagi BCA untuk mengevaluasi pola komunikasi perusahaan kepada masyarakat. Terlebih, isu yang dibantah berkaitan dengan kepemilikan saham dan aksi korporasi yang dapat memengaruhi persepsi investor.
“Tapi satu hal jelas, ketakutan Bank BCA yang terlihat sering kali lebih jujur daripada penjelasan yang disusun rapi,” pungkas Pamit.
Sebelumnya, BCA telah memberikan klarifikasi terkait rumor mengenai rencana aksi korporasi yang beredar di media sosial. Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menyatakan informasi mengenai rencana akuisisi saham perseroan tersebut tidak benar.
“Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar,” ujar Hera dalam keterangannya, Jumat, 25 September 2026.
Hera juga meminta masyarakat dan nasabah tidak menjadikan informasi yang beredar di media sosial sebagai satu-satunya rujukan. Ia mengimbau publik memperoleh informasi mengenai BCA melalui sumber resmi perusahaan maupun media yang kredibel.







Tinggalkan Balasan