Dalam pos

PorosBekasi.com – Pemerintah bergerak cepat merespons dinamika geopolitik global yang berpotensi mengganggu pasokan bahan baku petrokimia, khususnya akibat ketegangan di kawasan Selat Hormuz.

Langkah antisipatif dilakukan dengan mengonsolidasikan seluruh pelaku industri plastik dari hulu hingga hilir guna memastikan stabilitas produksi dalam negeri tetap terjaga.

Kementerian Perindustrian mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari industri petrokimia, manufaktur antara, hingga sektor daur ulang plastik.

Forum ini menjadi wadah untuk memetakan kondisi terkini sekaligus merumuskan strategi bersama menghadapi potensi tekanan rantai pasok.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut, hasil pertemuan menunjukkan keyakinan industri terhadap ketersediaan stok plastik nasional.

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah. Saya garis bawahi kata seharusnya, karena pemerintah tetap akan terus memantau perkembangan situasi global secara cermat yang berdampak terhadap produksi dan stok subsektor ini,” kata Agus, dikutip, Jumat, (174/2026).

Selain menjamin ketersediaan stok, pelaku industri juga menyatakan komitmennya menjaga kelancaran suplai, terutama bagi sektor industri kecil agar tetap mampu bersaing di pasar.

Namun demikian, tekanan global turut berdampak pada struktur harga produk plastik di dalam negeri. Kemenperin mencatat adanya kenaikan biaya logistik dan pengiriman, termasuk tambahan surcharge serta gangguan jadwal distribusi bahan baku impor.

“Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi” ungkap Agus.

Situasi ini, lanjut Agus, menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi industri petrokimia nasional agar lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada impor bahan baku.

Porosbekasicom
Editor