“Peristiwa ini semakin menegaskan pentingnya membangun industri petrokimia nasional yang kuat dan mandiri, agar ketergantungan terhadap bahan baku impor dapat terus dikurangi,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, investor juga menyoroti pentingnya peningkatan daya tarik sektor petrokimia nasional, termasuk melalui perlindungan pasar domestik dari tekanan produk impor.
Pemerintah memastikan akan terus menjaga keseimbangan pemanfaatan bahan baku, baik untuk kebutuhan energi maupun industri.
Selain itu, opsi pengembangan bahan baku alternatif berbasis domestik seperti crude palm oil (CPO) turut dibahas sebagai bagian dari strategi diversifikasi.
“Kita harus melihat seluruh potensi sumber daya nasional yang bisa menjadi alternatif bahan baku industri petrokimia, termasuk CPO, meskipun tantangan keekonomiannya masih perlu dihitung secara matang,” ucap Agus.
Agus pun mengingatkan persaingan global dalam memperoleh bahan baku petrokimia diprediksi semakin ketat.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri dinilai krusial untuk menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional.
“Kemenperin akan terus hadir bersama pelaku industri dalam menjaga ketahanan sektor manufaktur nasional menghadapi dinamika global,” pungkasnya.
Pertemuan tersebut turut dihadiri berbagai asosiasi dan perusahaan industri plastik dan petrokimia nasional, termasuk INAPLAS, ADUPI, GIATPI, APHINDO, serta sejumlah perusahaan besar seperti Chandra Asri Petrochemical, Lotte Chemical Indonesia, hingga Indorama Group.







Tinggalkan Balasan