POROSBEKASI.COM – Transformasi digital menjadi salah satu strategi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI dalam memperkuat penghimpunan dana murah dan menjaga pertumbuhan bisnis.
Hingga September 2026, nilai transaksi BNIdirect mencapai Rp9.324 triliun, sedangkan wondr by BNI membukukan transaksi sebesar Rp1.774 triliun.
Kinerja tersebut berjalan seiring dengan peningkatan jumlah pengguna kedua platform digital. Pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58% secara tahunan (year on year/YoY), sementara pengguna BNIdirect tercatat sebanyak 293 ribu atau meningkat 19% YoY.
Nilai transaksi BNIdirect tumbuh 16% YoY, sedangkan transaksi wondr by BNI meningkat 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya BNI memperluas layanan perbankan digital sekaligus memperkuat hubungan dengan nasabah.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, integrasi layanan digital dan jaringan cabang berperan dalam memperluas jangkauan pelayanan serta meningkatkan aktivitas transaksi nasabah.
“Integrasi layanan digital dan jaringan cabang memungkinkan BNI memperluas jangkauan layanan, meningkatkan transaksi, sekaligus memperkuat hubungan dengan nasabah di berbagai segmen,” ujar Putrama, Selasa (27/10/2026).
Untuk memperkuat produktivitas jaringan fisik, BNI juga menjalankan inisiatif BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment). Program tersebut difokuskan pada peningkatan produktivitas cabang, aktivitas transaksi, dan penghimpunan dana murah.
Strategi ini menjadi bagian dari pengembangan ekosistem perbankan yang menghubungkan layanan digital dengan jaringan cabang untuk memenuhi kebutuhan nasabah dari berbagai segmen.
Dana Murah BNI Tumbuh 19,6%
Penguatan transaksi perbankan turut mendukung pertumbuhan dana murah atau current account savings account (CASA) BNI sebesar 19,6% YoY menjadi Rp733,7 triliun hingga kuartal III 2026.
Dari komponen pendanaan, giro BNI tumbuh 25,9% YoY hingga September 2026. Pertumbuhan ini melampaui industri perbankan yang tercatat sebesar 9,8% berdasarkan data Agustus 2026.
Pangsa pasar giro BNI meningkat 120 basis poin (bps) menjadi 13,2%. Sementara itu, pangsa pasar tabungan naik 10 bps menjadi 9,2%, didukung pertumbuhan tabungan sebesar 11,6% YoY.
Peningkatan CASA menjadi salah satu faktor yang membantu perseroan menjaga biaya dana atau cost of fund (CoF) tetap terkendali. Hingga kuartal III 2026, CoF BNI turun dari 2,83% menjadi 2,77%.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menegaskan, penguatan pendanaan dan penyaluran kredit secara selektif menjadi bagian dari strategi menjaga keseimbangan pertumbuhan bisnis dan profitabilitas.
“Pertumbuhan kredit yang selektif dan penguatan dana murah menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan profitabilitas. Kami terus mengoptimalkan struktur pendanaan agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan,” tutur Paolo.
Kredit Tumbuh 22,2%, Pangsa Pasar Meningkat
Di sisi penyaluran dana, BNI mencatat pertumbuhan kredit sebesar 22,2% YoY menjadi Rp992,5 triliun. Ekspansi tersebut dilakukan pada seluruh segmen bisnis dengan penerapan standar analisis kelayakan kredit (underwriting) yang disiplin.
Strategi penyaluran kredit tersebut mendorong peningkatan pangsa pasar kredit BNI sebesar 113 bps YoY menjadi 10,6%.
Meski ekspansi kredit terus berjalan, perseroan tetap menghadapi tekanan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Hingga kuartal III 2026, NIM BNI tercatat 3,5%, turun 30 bps dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan itu terutama dipengaruhi penyesuaian imbal hasil kredit (loan yield) dari 7,3% menjadi 6,9%. Kondisi tersebut menunjukkan tantangan perbankan dalam menjaga profitabilitas di tengah dinamika biaya pendanaan dan suku bunga.
Namun, pertumbuhan CASA serta pengendalian biaya dana menjadi bagian dari upaya BNI menjaga struktur pendanaan agar tetap mendukung kegiatan intermediasi.
Kualitas Kredit dan Pencadangan Tetap Terjaga
Selain memperkuat transaksi digital dan pendanaan, BNI mempertahankan fokus pada kualitas aset. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik dari 2,0% menjadi 1,9%.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada menjelaskan, perbaikan kualitas aset juga tercermin dari penurunan rasio loan at risk (LaR) dari 10,4% menjadi 7,8%.
Untuk mengantisipasi risiko kredit, BNI menjaga rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8%, lebih tinggi dibandingkan tingkat industri sebesar 3,5%. Adapun NPL coverage ratio tercatat sebesar 193,3%.
“Pengelolaan risiko dilakukan sejak penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit, didukung sistem peringatan dini yang terus diperkuat,” ujar David.
Penerapan pengelolaan risiko tersebut menjadi bagian dari strategi perseroan untuk memastikan pertumbuhan kredit tetap sejalan dengan kualitas aset dan kecukupan pencadangan.
Likuiditas dan Modal Mendukung Pertumbuhan
BNI juga didukung posisi likuiditas dan permodalan yang memadai. Hingga kuartal III 2026, rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) tercatat sebesar 87,9%.
Sementara itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada pada level 143,4% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) mencapai 128,4%. Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 19,2%.
Posisi tersebut memberikan ruang bagi BNI untuk melanjutkan ekspansi bisnis sekaligus menjaga ketahanan dalam menghadapi potensi risiko.
Di tingkat kebijakan, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dan memutuskan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap mulai November 2026.
Kebijakan ini diharapkan memperkuat likuiditas perbankan dan mendukung penyaluran kredit ke sektor produktif.
Transformasi bisnis BNI juga sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia, yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan penciptaan nilai jangka panjang.
Memasuki kuartal IV 2026, BNI akan melanjutkan penguatan pendanaan berbasis transaksi, penyaluran kredit secara selektif, pengelolaan risiko, serta pengembangan layanan digital dan jaringan cabang.
Strategi tersebut diarahkan untuk memperkuat bisnis inti sekaligus mendukung pembiayaan sektor produktif dan pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.







Tinggalkan Balasan