Dalam pos

POROSBEKASI.COM – Mobil listrik menawarkan biaya energi lebih rendah dibandingkan mobil hybrid berdasarkan simulasi konsumsi listrik dan bahan bakar.

Namun, calon pembeli perlu mempertimbangkan harga kendaraan, biaya perawatan, fasilitas pengisian daya, serta pola penggunaan sebelum menentukan pilihan.

Mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) menggunakan baterai sebagai sumber tenaga utama yang diisi ulang dengan listrik.

Sementara itu, mobil hybrid menggabungkan mesin bensin dan motor listrik untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar.

Toyota Astra Motor memberikan ilustrasi perbandingan biaya energi kedua jenis kendaraan melalui situs resminya.

“Perbedaan sistem penggerak tersebut memengaruhi biaya penggunaan dan kebiasaan pemilik kendaraan, terutama bagi mereka yang rutin menghadapi kemacetan atau sering bepergian antarkota.” tulis Toyota di situs resminya, dikutip Selasa (27/10/2026).

Dalam simulasi tersebut, mobil listrik diasumsikan mengonsumsi 15 kWh per 100 kilometer dengan tarif listrik Rp1.500 per kWh. Berdasarkan perhitungan itu, biaya energi mencapai Rp225 per kilometer.

Adapun mobil hybrid dengan konsumsi bahan bakar 20 kilometer per liter dan harga bensin Rp14.000 per liter membutuhkan biaya sekitar Rp700 per kilometer.

Biaya Energi Mobil Listrik dan Hybrid

Perbedaan biaya tersebut terlihat ketika kedua kendaraan digunakan untuk menempuh jarak yang sama.

Dengan asumsi konsumsi dan tarif tersebut, berikut perbandingan pengeluaran energi untuk perjalanan 1.000 kilometer.

Komponen
Mobil listrik
Mobil hybrid

Konsumsi energi
150 kWh
50 liter bensin

Asumsi tarif energi
Rp1.500/kWh
Rp14.000/liter

Biaya per kilometer
Rp225
Rp700

Biaya untuk 1.000 km
Rp225.000
Rp700.000

Berdasarkan simulasi itu, mobil listrik membutuhkan biaya energi Rp475.000 lebih rendah untuk setiap 1.000 kilometer perjalanan.

Jika jarak tempuh mencapai 1.000 kilometer per bulan, selisih pengeluaran energi secara teoritis mencapai Rp5,7 juta dalam setahun.

Meski demikian, angka tersebut merupakan ilustrasi, bukan patokan biaya yang berlaku untuk semua kendaraan.

Konsumsi energi aktual, kondisi jalan, gaya berkendara, tarif pengisian, dan harga bahan bakar dapat memengaruhi pengeluaran.

Perhitungan itu juga belum mencakup biaya pembelian kendaraan, pemasangan pengisi daya di rumah, penggunaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU), perawatan, asuransi, pajak, serta penyusutan nilai kendaraan.

Artinya, biaya energi yang lebih rendah tidak otomatis menjadikan total biaya kepemilikan mobil listrik paling murah dalam setiap kondisi.

Akses Pengisian Daya Menentukan Pilihan

Ketersediaan fasilitas pengisian menjadi salah satu faktor penting sebelum membeli mobil listrik. Kendaraan jenis ini lebih praktis bagi pengguna yang memiliki tempat parkir pribadi dan dapat memasang pengisi daya di rumah.

Pengisian dapat dilakukan saat kendaraan tidak digunakan, sehingga pemilik memiliki lebih banyak keleluasaan dalam mengatur kebutuhan energi harian.

Namun, pengguna yang tinggal di hunian tanpa fasilitas parkir pribadi perlu memperhitungkan akses SPKLU, tarif pengisian publik, serta waktu yang diperlukan untuk mengisi baterai.

Perjalanan antarkota juga membutuhkan perencanaan rute, lokasi pengisian, dan jarak tempuh aktual agar perjalanan berlangsung lancar.

Mobil hybrid menawarkan fleksibilitas karena tetap dapat menggunakan bensin tanpa harus bergantung pada jaringan SPKLU.

Motor listrik membantu efisiensi bahan bakar, terutama dalam kondisi lalu lintas yang sering mengalami perlambatan dan berhenti.

Bagi pengguna yang rutin bepergian jauh atau belum memiliki akses pengisian daya yang memadai, karakteristik tersebut dapat menjadi pertimbangan utama.

Perawatan Mobil Listrik dan Hybrid

Selain biaya energi, pengeluaran untuk perawatan berkala juga perlu diperhitungkan.

Mobil listrik tidak membutuhkan penggantian oli mesin karena tidak menggunakan mesin pembakaran internal.

Namun, kendaraan ini tetap memerlukan pemeriksaan ban, sistem pengereman, suspensi, sistem kelistrikan, dan sistem pendingin baterai pada model tertentu.

Sementara itu, mobil hybrid tetap memerlukan perawatan mesin bensin, termasuk penggantian oli dan filter. Komponen baterai serta sistem elektrifikasinya juga harus diperiksa sesuai jadwal yang ditentukan pabrikan.

Besarnya biaya servis bergantung pada model kendaraan, usia pemakaian, kebutuhan penggantian komponen, dan ketentuan garansi.

Karena itu, calon pembeli sebaiknya membandingkan jadwal serta tarif servis resmi sebelum mengambil keputusan.

Garansi baterai dan komponen utama juga layak diperiksa untuk mengetahui perlindungan yang diberikan selama masa kepemilikan.

Mana yang Lebih Hemat untuk Pengguna Indonesia?

Berdasarkan simulasi biaya energi, mobil listrik unggul dari sisi pengeluaran listrik dibandingkan biaya bensin mobil hybrid. Namun, pilihan yang paling sesuai tetap bergantung pada kebutuhan perjalanan dan fasilitas yang tersedia.

Mobil listrik dapat menjadi pilihan menarik bagi pengguna dengan jarak tempuh harian yang terukur, akses pengisian daya yang mudah, serta keinginan menekan pengeluaran energi.

Sebaliknya, mobil hybrid menawarkan kemudahan bagi pengguna yang sering melakukan perjalanan antarkota, membutuhkan fleksibilitas pengisian energi, atau belum memiliki akses SPKLU yang memadai.

Calon pembeli juga perlu membandingkan harga pembelian, biaya pembiayaan, pajak, asuransi, perawatan, dan perkiraan nilai jual kembali untuk menghitung total biaya kepemilikan selama beberapa tahun.

Dengan mempertimbangkan seluruh komponen tersebut, keputusan memilih mobil listrik atau hybrid dapat disesuaikan dengan kemampuan anggaran dan kebutuhan mobilitas, bukan hanya berdasarkan perbedaan biaya listrik dan bensin.

 

Porosbekasicom
Editor