Dalam pos

POROSBEKASI.COM – Kinerja Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi kembali menjadi sorotan tajam. Rentetan dugaan kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang terjadi di fasilitas kesehatan milik pemerintah dinilai menunjukkan lemahnya pengawasan internal serta buruknya tata kelola pelayanan publik di sektor kesehatan.

Revolusi Pemuda Bekasi (RPB) bahkan memberikan rapor merah kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini.

Mereka menilai berulangnya insiden yang melibatkan pasien bukan lagi persoalan teknis semata, melainkan cerminan kegagalan manajemen dalam memastikan pelayanan kesehatan berjalan sesuai standar.

Ketua Umum RPB, Willy, menegaskan persoalan yang terjadi tidak boleh dianggap sebagai insiden biasa karena menyangkut keselamatan warga.

“Jika pelayanan kesehatan terus berjalan di bawah standar minimal, ini bukan sekadar kelalaian, melainkan bom waktu yang berpotensi menelan korban kapan saja dan mengancam keselamatan masyarakat luas,” ujar Willy dalam keterangannya, dikutip Senin (13/7/2026).

RPB mencatat sedikitnya dua kasus yang dinilai menjadi cerminan buruknya kinerja Dinas Kesehatan Kota Bekasi di bawah kepemimpinan Satia Sriwijayanti Anggraini.

Kasus pertama terjadi pada Maret 2025 di Puskesmas Rawa Tembaga. Seorang balita dilaporkan mengalami ruam kulit parah setelah diduga menerima obat yang telah kedaluwarsa.

Sementara kasus kedua terjadi pada Juni 2026 di Puskesmas Bintara Jaya. Seorang bayi berusia sembilan bulan yang seharusnya menerima vaksin campak, kabarnya malah disuntik vaksin DPT untuk kedua kalinya akibat dugaan kelalaian dalam prosedur pelayanan.

Menurut RPB, dua kasus tersebut memperlihatkan adanya persoalan serius dalam sistem pengawasan pelayanan kesehatan.

Organisasi itu menilai insiden yang terus berulang seharusnya menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kota Bekasi untuk mengevaluasi total kinerja Dinas Kesehatan.

Porosbekasicom
Editor