Dalam pos

POROSBEKASI.COM – Pesantren Al Hamid di Cilangkap, Jakarta Timur, telah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menaungi sekitar 1.800 santri pada 2026.

Perjalanan pesantren tersebut bermula dari amanah KH Chamim Jazuli atau Gus Miek untuk mendirikan pondok pesantren di Jakarta.

Gagasan itu kemudian diwujudkan oleh KH Hamid Djiman, pengusaha swasta yang dikenal sebagai pengagum sekaligus pengikut Gus Miek.

Dalam prosesnya, pembangunan pesantren juga mendapat dukungan dari sahabat KH Hamid Djiman, Garibaldi Thohir atau Boy Thohir.

Pengasuh Pesantren Al Hamid, KH Lukman Hakim Hamid, menjelaskan bahwa pendirian pesantren tersebut tidak terlepas dari pesan yang disampaikan Gus Miek dan KH Munif Djazuli kepada ayahnya.

“Berawal dari perintah sang guru romo Kiai Hamim Djazuli atau lebih dikenal atau akrab disapa dengan Gus Miek dan Romo Kiai Munif Djazuli yang mana beliau berdua memerintahkan kepada ayahanda kami Abah KH Hamid Djiman untuk membuat ponpes di lahan milik pribadi beliau,” ujar Lukman dalam pembukaan Munas dan Konbes NU 2023 silam, dikutip Rabu (30/9/2026).

Dibangun di Cilangkap dan Pondok Ranggon

Langkah awal untuk merealisasikan amanah tersebut dilakukan dengan mendirikan Yayasan Mantab Sejahtera. Yayasan ini kemudian membebaskan dua bidang tanah yang digunakan untuk pembangunan Pesantren Al Hamid Putra di Cilangkap dan Pesantren Al Hamid Putri di Pondok Ranggon.

Kompleks pesantren putra dibangun di atas lahan sekitar 65.000 meter persegi, sementara pesantren putri menempati lahan sekitar 35.000 meter persegi.

Pembangunan dilakukan secara bertahap dengan menghadirkan berbagai kebutuhan pendidikan dan kehidupan santri, mulai dari asrama hingga gedung madrasah serta fasilitas penunjang lainnya.

Dalam perkembangan pembangunan tersebut, dukungan juga datang dari Garibaldi Thohir atau Boy Thohir yang ketika itu menjabat sebagai Direktur Utama Adaro Energy Indonesia.

“Pada akhirnya ayahanda bersama sahabat beliau Garibaldi Thohir atau Haji Boy yang ikut membantu mulai perlahan membangun ponpes di atas lahan seluas enam hektar di pondok putra dan 3,5 hektare di pondok putri,” kata Lukman.

Fasilitas Pendidikan Terus Dikembangkan

Seiring bertambahnya aktivitas pendidikan, Pesantren Al Hamid melengkapi kompleksnya dengan berbagai fasilitas bagi para santri.

Sejumlah fasilitas yang tersedia antara lain asrama, gedung Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Ibtidaiyah Terpadu (MIT), taman kanak-kanak, koperasi, klinik, kantin, musala hingga sarana olahraga.

Pengembangan pesantren juga dibarengi dengan persiapan sumber daya manusia. KH Hamid Djiman mengirim putra-putrinya untuk menimba ilmu di sejumlah pesantren, termasuk Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Yanbu’ul Qur’an Kudus, Pesantren Tahfidzul Qur’an Malang, serta Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri.

Keterkaitan dengan Al Falah Ploso kemudian menjadi bagian dari tradisi keilmuan Pesantren Al Hamid. Dalam perkembangannya, Pesantren Al Hamid menginduk dan mendapat pengawasan dari pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Kediri.

Mulai Terima Santri pada 2002

Pesantren Al Hamid mulai menerima santri dan siswa pada 2002. Pada tahap awal, lembaga pendidikan tersebut membuka jenjang TK, MI, MTs, dan MA.

Lima tahun kemudian, nama yayasan yang menaungi pesantren berubah dari Yayasan Mantab Sejahtera menjadi Yayasan Mantab Al Hamid. Perubahan tersebut tercatat melalui Akta Notaris Nomor 77/17-12-2007.

Selanjutnya, pada 2010, Pesantren Al Hamid terdaftar dengan Nomor Statistik Pondok Pesantren 510031750036.

Hingga 2026, jumlah santri yang menempuh pendidikan di Pesantren Al Hamid mencapai sekitar 1.800 orang. Mereka didukung 210 guru dan 25 tenaga pendidik. Pesantren tersebut juga telah memiliki sekitar 10.000 alumni.

“Alhamdulillah sampai saat ini jumlah santri baru mencapai 1.800 orang. Mohon doa para kiai semoga Ponpes Al Hamid semakin maju dan semakin berkembang penuh dalam keberkahan,” ujar Lukman.

Pernah Jadi Lokasi Munas dan Konbes NU

Perkembangan Pesantren Al Hamid juga tidak terlepas dari keterlibatannya dalam berbagai kegiatan Nahdlatul Ulama (NU). Salah satunya ketika kompleks pesantren tersebut menjadi lokasi pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2023.

Agenda tersebut dihadiri ribuan ulama, kiai, serta pengurus NU dari berbagai daerah. Sebelum menjadi lokasi kegiatan, pihak pesantren terlebih dahulu meminta nasihat dan restu dari sejumlah guru, termasuk Romo Kiai Nurul Huda Jazuli dan Maulana Habib Luthfi.

“Maka dalam penugasan ini kami sowan kepada guru-guru kami di antaranya beliau Romo Kiai Nurul Huda Jazuli serta Maulana Habib Luthfi. Beliau-beliau inilah yang kemudian memberikan restu dan doa bagi kami dan keluarga di ponpes dalam menjalankan tugas yang amat besar ini,” jelasnya.

Perjalanan Pesantren Al Hamid dimulai dari amanah Gus Miek yang kemudian diwujudkan KH Hamid Djiman melalui pembangunan lembaga pendidikan di Jakarta. Dukungan Boy Thohir turut menjadi bagian dari proses pembangunan pesantren hingga berkembang dengan ribuan santri dan alumni.

Kini, Pesantren Al Hamid tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan bagi para santri, tetapi juga menjadi salah satu tempat berkumpulnya ulama dan pengurus NU dari berbagai daerah serta bagian dari jaringan pendidikan dan kaderisasi warga NU.

 

 

Porosbekasicom
Editor