POROSBEKASI.COM – Laba PT Pertamina Hulu Energi (PHE) turun tajam sepanjang 2025. Subholding upstream PT Pertamina (Persero) itu membukukan laba tahun berjalan sebesar USD2,175 miliar, anjlok sekitar USD945,55 juta atau 30,30 persen dari capaian USD3,121 miliar pada 2024.
Penurunan tersebut tercatat setelah terjadi perubahan jajaran pimpinan PHE pada Juli 2025. Chalid Said Salim digantikan Awang Lazuardi sebagai Direktur Utama, sementara posisi Komisaris Utama yang sebelumnya ditempati Rinaldi Firmansyah kemudian diisi Denny Januar Ali atau Denny JA.
Tak hanya laba, pendapatan usaha PHE juga ikut menyusut. Pada 2025, pendapatan perusahaan tercatat USD13,819 miliar, turun USD510,72 juta atau 3,56 persen dibandingkan pendapatan 2024 yang mencapai USD14,330 miliar.
Dalam Laporan Tahunan PHE 2025, perusahaan menjelaskan penurunan laba antara lain dipengaruhi kenaikan biaya depresiasi dan penyisihan penurunan nilai aset nonkeuangan.
Menurut Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi, penurunan kinerja tersebut perlu dicermati, terutama karena berlangsung pada periode yang sama dengan pergantian pimpinan PHE.
“Setelah ada pergantian pimpinan di level atas, dari Chalid Said Salim ke Awang Lazuardi, atau dari Rinaldi Firmansyah ke Denny Januar Ali, PT Pertamina Hulu Energi seperti kena nasib malang dan tragis,” kata Uchok dalam keterangannya, Minggu 27 September 2026.
Pergantian Direktur Utama PHE dari Chalid Said Salim kepada Awang Lazuardi resmi dikukuhkan pada 8 Juli 2025. Awang sebelumnya menjabat Direktur Pengembangan dan Produksi PHE.
Pada periode sebelumnya, Rinaldi Firmansyah menjabat sebagai Komisaris Utama PHE, sedangkan Chalid Said Salim menjabat Direktur Utama. Dokumen perusahaan mencatat keduanya masih berada dalam jajaran pimpinan PHE sebelum perubahan pada Juli 2025.
Adapun Denny Januar Ali atau Denny JA kemudian ditunjuk sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PHE melalui keputusan pemegang saham pada Juli 2025.
Uchok membandingkan kinerja laba PHE pada periode sebelumnya dengan capaian setelah terjadinya perubahan pimpinan.
Berdasarkan laporan tahunan perusahaan, laba tahun berjalan PHE pada 2023 tercatat USD2,725 miliar. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi USD3,121 miliar pada 2024, sebelum kembali turun menjadi USD2,175 miliar pada 2025.
“Jangan-jangan minimnya dan turunnya laba PT Pertamina Hulu Energi pada 2025 disebabkan minyak mentah yang mau diangkat itu memakai metode survei, ditanya dulu dengan banyak pertanyaan,” ujar Uchok.
Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan proses pengangkatan atau lifting minyak mentah yang menurutnya membutuhkan biaya dan proses yang panjang.
“Ketika minyak mentah mau diangkat, harus membayar dulu. Karena memakai metode survei, baik untuk politik maupun angkat minyak mentah, ongkos mahal, dan harus membayar lebih dulu,” kata Uchok.
Meski demikian, hubungan antara pergantian pimpinan dan penurunan laba tersebut merupakan penilaian Uchok. Laporan Tahunan PHE sendiri menjelaskan bahwa penurunan laba 2025 terutama berkaitan dengan kenaikan biaya depresiasi serta penyisihan penurunan nilai aset nonkeuangan.
Di sisi lain, kinerja arus kas operasi PHE justru menunjukkan peningkatan. Pada 2025, kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi mencapai USD6,96 miliar, naik 23,62 persen dibandingkan 2024 sebesar USD5,63 miliar.
Data tersebut menunjukkan penurunan laba bersih tidak serta-merta berarti seluruh indikator keuangan PHE mengalami pelemahan.
Faktor operasional, biaya depresiasi, impairment aset, harga komoditas, produksi, serta perubahan struktur dan kepemimpinan perusahaan perlu dilihat secara terpisah dalam membaca kinerja PHE.







Tinggalkan Balasan