Dalam pos

PorosBekasi.com – Mengantar paket Makan Bergizi Gratis (MBG) ke sekolah-sekolah di wilayah pedalaman Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, bukan pekerjaan mudah.

Jalan desa yang rusak, licin karena lumpur, hingga genangan banjir di sejumlah titik kerap menjadi rintangan dalam perjalanan distribusi.

Kondisi itu hampir setiap hari dihadapi Teguh Yuwono, sopir pengantar makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Catur Tunggal. Meski perjalanan sering melelahkan, ia mengaku rasa capeknya seakan hilang ketika tiba di sekolah tujuan.

“Disambut anak-anak dengan antusias. Lelah capek kami jadi hilang saat ketemu anak-anak sekolah yang gembira menyambut,” ujar Teguh, Rabu, 4 Maret 2026.

Setiap hari ia bertugas mendistribusikan makanan MBG ke delapan sekolah dan enam posyandu di wilayah sekitarnya. Perjalanan yang ditempuh kerap melewati jalan desa yang rusak dan berlumpur, terutama saat musim hujan.

Beberapa titik bahkan rawan banjir sehingga kendaraan distribusi harus berjalan lebih hati-hati.

“Kalau di Desa Catur Tunggal ada satu titik lokasi banjir. Terus di Mukti Karya ada satu titik lagi. Jadi kalau musim hujan, di situ pasti ada banjir kalau malam hujan,” katanya.

Tidak jarang kendaraan yang ia kemudikan tersendat karena jalan berlumpur. Dalam kondisi tersebut, Teguh dan rekannya harus meminta bantuan tim lain agar mobil bisa kembali melanjutkan perjalanan.

“Kalau nyangkut pernah. Kami pernah nyangkut. Tapi kami langsung hubungi rekan-rekan divisi yang sudah selesai bekerja untuk bantuin,” ujarnya.

Meski menghadapi berbagai kendala di lapangan, Teguh mengaku tetap menikmati pekerjaannya. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar mengantar makanan, tetapi juga melihat langsung kegembiraan anak-anak yang menerima makanan bergizi di sekolah.

Sebelum bergabung dalam program MBG, Teguh bekerja sebagai buruh pengangkut dan penyadap getah karet dengan penghasilan yang tidak menentu. Rata-rata pendapatannya saat itu hanya sekitar Rp700 ribu per bulan.

Kini kondisinya berubah. Dengan pekerjaan sebagai driver MBG, penghasilannya lebih stabil dan ia bisa menyisihkan uang untuk pendidikan anak-anaknya.

“Kalau dulu untuk biaya anak sekolah mungkin satu bulan paling bisa nabung sekitar 300 ribu. Sekarang satu bulan bisa nabung sekitar 700 ribu sampai satu juta,” katanya.

Bagi Teguh, pekerjaan ini bukan hanya tentang distribusi makanan bagi anak-anak sekolah, tetapi juga peluang kerja yang membuat kehidupan keluarganya lebih baik.

Setiap kali kendaraan yang ia kemudikan berhenti di halaman sekolah, senyum anak-anak yang menunggu makanan menjadi pengingat bahwa perjalanan panjang yang ia lalui setiap hari tidak sia-sia.

Porosbekasicom
Editor