Dalam pos

PorosBekasi.com – Hubungan harmonis antara PDI Perjuangan dan PKB di Kota Bekasi, yang sebelumnya bersatu dalam koalisi Pilkada, kini di ambang perpecahan, menyusul insiden yang melibatkan Arif Rahman Hakim (ARH) anggota DPRD dari Fraksi PDIP, terhadap Ahmadi Madong dari PKB.

Konflik ini semakin memanas karena Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan, dinilai tak mengambil tindakan.

Ketua Umum Forum Komunikasi Intelektual Muda Indonesia (Forkim), Mulyadi, menyayangkan sikap Tri Adhianto yang memilih bungkam.

Mulyadi menyebut diamnya Tri adalah sebuah ironi, mengingat kedua partai ini adalah kekuatan utama yang mengantarkan Tri-Harris ke kursi kekuasaan pada Pilkada 2024 lalu.

“Hingga kini, Tri memilih bungkam. Tak ada langkah tegas, apalagi inisiatif untuk mendamaikan konflik yang kian memanas antara dua partai besar di Kota Bekasi,” ujarnya, Kamis (25/9/2025.

Menurutnya, sikap diam Tri Adhianto tidak hanya melemahkan koalisi yang telah dibangun, tetapi juga mengancam legitimasi demokrasi lokal. Ia menilai, sikap tersebut seolah membenarkan kekerasan politik, yang berbahaya bagi iklim politik di Kota Bekasi.

“Jika dibiarkan, bukan hanya reputasi legislatif yang tercoreh, tetapi juga masa depan demokrasi lokal terancam kehilangan legitimasi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mulyadi mempertanyakan kapasitas kepemimpinan Tri Adhianto.

“Ia tampak lebih sibuk mempertahankan sorotan kamera yang sedang diseting, daripada menegakkan prinsip etika dan moral dalam politik,” tandasnya.

Mulyadi berharap Tri bisa segera bertindak sebagai jembatan penengah untuk menyelesaikan konflik yang melibatkan kadernya dengan mitra politik strategisnya.

Porosbekasicom
Editor