Dalam pos

Ia mencontohkan kondisi Golkar Kota Bekasi selama kepemimpinan Ade Puspitasari dalam lima tahun terakhir. Golkar dinilai tetap mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu kekuatan politik utama di Kota Bekasi.

Hal itu terlihat dari perolehan delapan kursi DPRD Kota Bekasi pada Pileg 2024. Jumlah tersebut sama dengan raihan Golkar pada Pileg 2014 dan 2019 ketika partai tersebut dipimpin Rahmat Effendi yang saat itu berstatus Wali Kota Bekasi.

Bahkan, Golkar mampu mempertahankan delapan kursi ketika jumlah daerah pemilihan (Dapil) Kota Bekasi berkurang dari enam dapil pada Pemilu 2019 menjadi lima dapil pada Pemilu 2024.

Dari sisi perolehan suara, Golkar juga tercatat unggul dibandingkan PDI Perjuangan. Golkar memperoleh 205.229 suara, sedangkan PDI Perjuangan mengantongi 201.831 suara.

Menurut Novarel, hasil tersebut menunjukkan bahwa kekuatan Golkar Kota Bekasi tidak sepenuhnya bertumpu pada figur ketua partai.

“Ini menunjukkan bahwa tanpa harus bergantung kepada sosok tertentu, Golkar tetap bisa mempertahankan kekuatannya. Sistem partai dan soliditas organisasi justru menjadi modal utama,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegagalan Golkar memenangkan Pilkada Kota Bekasi 2024 juga tidak dapat dijadikan ukuran tunggal untuk menilai kekuatan partai. Sebab, karakter Pileg dan Pilkada berbeda, terutama karena Pilkada turut ditentukan oleh kekuatan figur calon.

Novarel mencontohkan PKS Kota Bekasi yang menjadi pemenang Pileg 2024, tetapi tidak berhasil memenangkan Pilkada Kota Bekasi pada tahun yang sama.

Karena itu, ia menilai Musda Golkar Kota Bekasi seharusnya diarahkan untuk melakukan pembenahan organisasi sekaligus merumuskan strategi politik menghadapi agenda lima tahun mendatang.

Dorong Bersih-bersih Internal

Selain memperkuat sistem partai, Novarel mendorong agar Musda menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan pembenahan internal Golkar Kota Bekasi.

Porosbekasicom
Editor