Dalam unggahan viral itu disebutkan bahwa metana memiliki dampak pemanasan hingga 86 kali lebih besar dibanding CO2 dalam rentang waktu 20 tahun.
Angka tersebut merujuk pada Global Warming Potential (GWP), yakni ukuran seberapa besar gas mampu memerangkap panas di atmosfer.
Karena itu, tempat pembuangan sampah berskala besar seperti TPST Bantargebang menjadi perhatian dunia dalam isu perubahan iklim.
TPST Bantargebang sendiri selama ini menjadi lokasi pembuangan utama sampah dari wilayah Jakarta dan sekitarnya. Setiap hari, ribuan ton sampah dari kawasan Jabodetabek dikirim ke lokasi tersebut.
Bukan Sekadar “Masalah Bekasi”
Meski demikian, unggahan itu juga menegaskan bahwa persoalan emisi di Bantargebang bukan semata tanggung jawab Kota Bekasi.
TPST Bantargebang menampung sampah dari aktivitas jutaan warga di kawasan metropolitan Jabodetabek. Fenomena serupa juga ditemukan di berbagai kota besar dunia.
Dalam laporan yang beredar, sejumlah wilayah seperti Hong Kong, Riyadh hingga Texas juga masuk dalam daftar lokasi dengan emisi metana tinggi dari sektor pengelolaan sampah.
Potensi Energi dari Sampah
Di sisi lain, metana sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif melalui teknologi Waste-to-Energy (WtE).
Gas metana dari tumpukan sampah bisa ditangkap menggunakan sistem perpipaan sebelum terlepas ke atmosfer. Selanjutnya, gas tersebut dibakar untuk menghasilkan energi listrik.
Konsep ini dinilai mampu mengurangi dampak perubahan iklim sekaligus mengubah sampah menjadi sumber energi terbarukan.
Dengan teknologi pengolahan yang tepat, emisi metana yang selama ini dianggap ancaman lingkungan dapat dimanfaatkan menjadi sumber daya ekonomi dan energi bagi masyarakat.







Tinggalkan Balasan