PorosBekasi.com – Sebuah unggahan dari akun Instagram @opiniid, pada 26 April 2026, menyebut NASA memantau langit Bekasi dan menemukan emisi gas metana berbahaya dari TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Benarkah demikian?
Postingan tersebut ramai dibicarakan dan telah mendapat lebih dari 19,5 ribu tanda suka serta dibagikan lebih dari 2.900 kali.
Narasi yang dibangun menyebut NASA melalui instrumen canggih bernama EMIT mendeteksi “monster tak kasat mata” berupa gas metana dari langit Kota Bekasi.
Lalu, apakah informasi tersebut hoaks atau fakta?
Fakta: NASA Memang Mendeteksi Emisi Metana dari Bantargebang
Berdasarkan data publik NASA dan penelitian sejumlah lembaga internasional, informasi mengenai deteksi emisi gas metana dari TPST Bantargebang memang benar adanya.
NASA menggunakan instrumen bernama EMIT (Earth Surface Mineral Dust Source Investigation) yang dipasang di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Teknologi ini dirancang untuk memetakan mineral debu di permukaan bumi, namun dalam perkembangannya juga mampu mendeteksi emisi gas seperti metana dari orbit luar angkasa.
Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa EMIT mendeteksi pendaran metana pekat dari kawasan Bantargebang, Bekasi.
Data itu kemudian dianalisis oleh STOP Methane Project dari University of California, Los Angeles (UCLA).
Hasil analisis menunjukkan TPST Bantargebang menghasilkan emisi metana sekitar 6,3 ton per jam dan masuk dalam daftar 10 besar sumber emisi metana terbesar yang terpantau secara global.
Dalam daftar tersebut, kawasan Bekasi berada di posisi kedua dengan angka emisi 6,33 ton per jam. Posisi pertama ditempati Campo de Mayo di Argentina dengan 7,62 ton per jam, sementara posisi ketiga berada di Jeram, Malaysia dengan angka 6,04 ton per jam.
Mengapa Gas Metana Jadi Sorotan?
Metana merupakan gas rumah kaca yang memiliki efek pemanasan jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida (CO2) dalam jangka pendek.







Tinggalkan Balasan