Dalam pos

PorosBekasi.com – Kabar soal harga minyak goreng yang disebut menembus Rp60 ribu per liter sempat mengundang keresahan publik.

Namun di balik isu tersebut, data nasional justru menunjukkan tren yang lebih menenangkan, khususnya pada minyak goreng rakyat, Minyakita.

Pemerintah menegaskan bahwa lonjakan harga ekstrem tersebut hanya terjadi di wilayah dengan keterbatasan distribusi seperti Intan Jaya, sehingga tidak mencerminkan kondisi pasar secara luas. Secara nasional, harga minyak goreng masih berada dalam jalur yang terkendali.

Bahkan, perkembangan harga Minyakita menjadi sorotan positif. Produk yang ditujukan untuk menjaga keterjangkauan ini terus bergerak mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET).

Per April 2026, harga Minyakita tercatat turun mendekati Rp16.000 per liter atau rata-rata sekitar Rp15.900, mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp15.700.

Capaian ini menjadi indikasi kuat bahwa intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.

Menteri Perdagangan juga memastikan bahwa kenaikan harga minyak goreng yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan. Stok minyak goreng nasional dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.

Pemerintah menjelaskan, tekanan harga lebih dipicu oleh kenaikan biaya produksi, terutama pada bahan kemasan plastik.

Artinya, kenaikan tersebut bersifat terbatas dan tidak mencerminkan adanya gangguan pasokan secara nasional.

Di sisi lain, penguatan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) turut menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga.

Dengan kewajiban penyaluran minimal 35 persen untuk pasar domestik, pasokan minyak goreng tetap terjaga.

Bahkan, realisasi DMO telah melampaui ketentuan tersebut dan mencapai sekitar 49 persen.

Langkah ini dinilai efektif dalam memastikan ketersediaan barang di pasar sekaligus menekan potensi lonjakan harga.

Ke depan, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional mengusulkan peningkatan porsi DMO hingga 60 persen guna memperkuat distribusi dan menjaga harga tetap stabil.

Dengan tren harga yang semakin mendekati HET serta pasokan yang terjaga, pemerintah optimistis stabilitas minyak goreng dapat terus dipertahankan.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap bijak menyikapi informasi yang beredar dan tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Narasi “Minyakita Tetap Terjangkau” pun semakin relevan sebagai gambaran upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat.

Porosbekasicom
Editor