Dalam pos

PorosBekasi.com – Revitalisasi Pasar Kranji Baru di Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, kini menjadi proyek tak bertuan.

Sejak dimulai pada 2019, pembangunan nyaris tak bergerak maju alias mangkrak.

Area yang semestinya berdiri bangunan pasar kini hanya menyisakan struktur mangkrak, material yang menua, serta lahan yang dipenuhi semak belukar.

Persoalan semakin serius karena proyek ini diduga melibatkan dana sekitar Rp40 miliar yang dihimpun dari para pedagang melalui investor, PT Annisa Bintang Blitar (PT ABB).

Nilai tersebut dinilai tidak kecil, bahkan setara pembangunan sejumlah fasilitas publik seperti sekolah dasar atau puskesmas.

Kondisi ini memicu tuntutan agar Pemerintah Kota Bekasi segera mengambil langkah tegas, termasuk memutus Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan pihak investor.

“Kami sudah bayar DP, bayar cicilan kios. Total dari semua pedagang katanya tembus Rp40 miliar. Tapi pasarnya mana? Sudah 7 tahun kami ngontrak di tempat penampungan yang kumuh, dagangan sepi pembeli,” ungkap SR, salah seorang pedagang, Kamis (23/4/2026).

Sejak awal, proyek ini dijalankan dengan skema Bangun Guna Serah (BGS), di mana PT ABB bertindak sebagai investor. Para pedagang lama dijanjikan fasilitas kios baru dengan harga khusus, dengan syarat membayar uang muka dan mencicil.

“Katanya dua tahun langsung jadi. Kami disuruh pindah ke TPS. Bayar DP mulai dari Rp15 juta sampai Rp50 juta per kios, ada yang bahkan sudah lunas sampai Rp100 juta lebih. Total pedagang ada 800-an orang, kalau dihitung kasar ya Rp40 miliar lebih,” cerita pedagang lain berinisial M.

Namun hingga April 2026, aktivitas pembangunan nyaris tidak terlihat. Alasan klasik seperti pandemi COVID-19 dan kenaikan harga material dinilai tidak lagi relevan, mengingat kondisi tersebut telah berlalu sejak beberapa tahun terakhir.

Porosbekasicom
Editor