Dalam pos

PorosBekasi.com – Ketua Umum Gaikindo, Yohannes Nangoi, mengumumkan jumlah pengunjung pameran otomotif GIIAS 2025 melonjak 6–7 persen dibanding tahun lalu. Total 485.569 orang memadati ajang tersebut, naik dari 475.084 pengunjung pada 2024.

Namun, lonjakan pengunjung itu tak berbanding lurus dengan perputaran uang. Nilai transaksi—termasuk penjualan mobil baru—justru diprediksi menurun. Gaikindo belum merilis angka resmi, namun tren awal menunjukkan minat beli tak sekuat animo datang ke pameran.

Fenomena ini memunculkan istilah populer di kalangan pelaku otomotif: rojali alias “rombongan jarang beli”. Banyak orang datang untuk melihat-lihat mobil terbaru, tapi hanya sedikit yang benar-benar menandatangani surat pemesanan kendaraan.

Menanggapi hal itu, pengamat otomotif dari ITB, Yannes Martinus Pasaribu itu disebabkan karena melemahnya daya beli masyarakat dari kelas menengah.

“Ini disebabkan melemahnya daya beli kelas menengah kita akibat kenaikan harga mobil kisaran Rp150-400 juta sebesar rata-rata 7 persen per tahun yang tidak selaras dengan pertumbuhan pendapatan riil hanya 4-5 persen,” kata Yannes, Jumat (8/8/2025).

Yannes mengatakan, kelas menengah memegang peranan vital dalam industri otomotif karena merupakan kelompok konsumen terbesar dan paling aktif dalam membeli kendaraan.

Kelas menengah jadi target utama produsen dan perusahaan pembiayaan karena cenderung membeli mobil menggunakan skema cicilan serta rutin mengganti kendaraan setiap beberapa tahun.

Ketergantungan mereka pada kredit membuat kelas ini sangat sensitif terhadap fluktuasi suku bunga dan inflasi, sehingga penurunan daya beli atau tekanan ekonomi langsung berdampak pada penjualan mobil nasional.

“Ditambah tekanan ekonomi seperti inflasi pangan 6,2 persen pada Juni 2025 dan kenaikan BI 7-Day Reverse Repo Rate ke 5,75 persen yang mempersempit kemampuan kredit konsumen,” tandasnya.

Porosbekasicom
Editor