Dalam pos

POROSBEKASI.COM – Manajemen baru PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk diminta tidak hanya menjaga pertumbuhan kinerja perusahaan, tetapi juga memperketat pengawasan terhadap penggunaan anggaran.

Salah satu pos yang mendapat perhatian Center for Budget Analysis (CBA) adalah anggaran perjalanan dinas yang pada 2026 mencapai sekitar Rp178 miliar.

Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, menilai pos perjalanan dinas tersebut perlu dievaluasi secara menyeluruh, terutama perjalanan dinas luar negeri.

Menurutnya, pergantian pucuk pimpinan Telkom dari Dian Siswarini kepada Nanang Hendarno dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 September 2026 menjadi momentum untuk memperbaiki pengelolaan anggaran.

Berdasarkan data CBA, anggaran perjalanan dinas Telkom pada 2026 berada di angka sekitar Rp178 miliar. Sementara pada 2025, anggaran perjalanan dinas tercatat sebesar Rp343 miliar dengan realisasi sekitar Rp151 miliar.

“Anggaran perjalanan dinas harus ditekan secara ketat. Porsinya sangat besar, terutama untuk perjalanan dinas luar negeri,” ujar Uchok dalam keterangannya, Rabu (7/10/2026).

Uchok menilai perjalanan kerja ke luar negeri yang dilakukan pada masa kepemimpinan sebelumnya perlu dilihat kembali efektivitasnya. Ia menilai kegiatan tersebut belum menunjukkan dampak signifikan terhadap penguatan nilai perusahaan, terlebih harga saham Telkom sempat mengalami tekanan.

Menurutnya, pergerakan saham Telkom lebih banyak dipengaruhi kondisi global yang kurang kondusif serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Karena itu, ia menilai persoalan tekanan saham tidak serta-merta dapat dikaitkan dengan kurangnya aktivitas penjajakan investor di luar negeri.

“Gara-gara tekanan global ini, sudah tentu investor asing melepas sahamnya sehingga terjadi tekanan pasar yang kencang pada saham Telkom. Jadi, tidak perlu kegiatan luar negeri yang berlebihan,” imbuhnya.

Atas dasar itu, CBA mendesak manajemen baru TelkomGroup menggandeng Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk mengaudit anggaran perjalanan dinas luar negeri.

Audit tersebut dinilai penting untuk memastikan penggunaan anggaran dapat dipertanggungjawabkan dan memiliki urgensi yang jelas.

Langkah pengawasan tersebut sekaligus dinilai dapat memperkuat transparansi di tubuh TelkomGroup. Publik, kata CBA, perlu mengetahui alasan dan manfaat dari setiap perjalanan kedinasan yang menggunakan anggaran perusahaan.

Di sisi lain, evaluasi anggaran tersebut dilakukan ketika kinerja keuangan Telkom pada semester I 2026 masih menunjukkan pertumbuhan.

Kondisi ini dinilai menjadi catatan tersendiri bagi Nanang Hendarno agar agenda efisiensi tidak mengganggu kinerja positif yang telah dicapai perusahaan.

Berdasarkan laporan resmi Telkom, pendapatan hingga Juni 2026 mencapai sekitar Rp75,8 triliun. Angka tersebut meningkat kurang lebih Rp2,8 triliun dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang berada di kisaran Rp73 triliun.

Selain pendapatan, EBITDA dan laba bersih normalisasi Telkom pada semester pertama 2026 juga tercatat mengalami pertumbuhan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu menjaga performa di tengah agenda transformasi yang dijalankan.

Kontribusi Telkomsel terhadap TelkomGroup juga menunjukkan tren positif. Pada semester I 2026, Telkomsel membukukan pendapatan Rp55,6 triliun atau tumbuh 3,3 persen secara tahunan (year-on-year).

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang lini bisnis Digital Business Data yang melesat 11 persen secara tahunan. Kinerja tersebut menjadi salah satu indikator positif yang perlu dipertahankan oleh manajemen baru.

“Pendapatan Telkom masih menunjukkan kenaikan. Ini harus menjadi catatan bagi Dirut baru agar perubahan kepemimpinan tidak mengganggu kinerja perusahaan,” ujar Uchok.

Dengan kinerja yang masih tumbuh, CBA menilai manajemen baru memiliki pekerjaan rumah untuk menjaga kesinambungan operasional sekaligus memastikan agenda transformasi perusahaan berjalan efektif. Efisiensi anggaran, khususnya perjalanan dinas, menjadi salah satu aspek yang diminta untuk mendapat perhatian.

CBA juga melihat momentum pergantian Direktur Utama sebagai kesempatan untuk memperkuat tata kelola perusahaan. Evaluasi perjalanan dinas luar negeri dinilai tidak hanya berkaitan dengan besaran anggaran, tetapi juga mengenai manfaat konkret yang dihasilkan bagi TelkomGroup.

Uchok menilai audit terhadap pos tersebut semakin relevan karena kondisi saham TelkomGroup mulai menunjukkan pemulihan dan kembali dilirik investor.

“Audit perjalanan dinas luar negeri penting dilakukan agar sejalan dengan momentum pengangkatan Dirut PT Telkom yang baru, Nanang Hendarno, di mana saat ini harga saham TelkomGroup mulai pulih, merangkak naik, dan kembali dilirik oleh investor,” tutupnya.

Porosbekasicom
Editor