Dalam pos

POROSBEKASI.COM – Pertumbuhan industri pusat data di Indonesia ikut meningkatkan kebutuhan terhadap pasokan listrik yang stabil dan tersedia sepanjang waktu.

Kondisi ini dinilai dapat menciptakan peluang bagi sejumlah emiten yang bergerak di sektor operator data center, energi, maupun kawasan industri.

Perusahaan yang terlibat dalam ekosistem tersebut tidak serta-merta memperoleh manfaat yang sama. Besarnya peluang sangat bergantung pada kontrak yang diperoleh, kapasitas yang benar-benar tersambung dan beroperasi, serta kontribusi bisnis tersebut terhadap pendapatan masing-masing perusahaan.

Head of Research PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam laporan Tesis Energi Data Center yang terbit September ini menempatkan keandalan energi sebagai salah satu faktor penting dalam persaingan menarik investasi pusat data.

“Indonesia tidak harus menawarkan tarif listrik termurah untuk bersaing sebagai lokasi data center,” tulis Liza dalam laporan tersebut.

Menurut Kiwoom, operator pusat data berskala besar membutuhkan pasokan listrik yang tersedia 24 jam, dapat ditingkatkan mengikuti pertumbuhan kebutuhan, serta bisa diperoleh dalam waktu relatif cepat.

Selain energi, ketersediaan lahan, jaringan serat optik, dan kepastian regulasi juga menjadi pertimbangan dalam menentukan lokasi fasilitas.

Kebutuhan tersebut membuat keandalan infrastruktur menjadi bagian penting dalam pengembangan pusat data. Operator harus memperhitungkan jaringan listrik, sumber daya cadangan, sistem pendinginan hingga ketersediaan air untuk memastikan layanan tetap berjalan.

“Biaya produksi listrik yang murah belum tentu menghasilkan biaya listrik 24/7 yang murah bagi data center,” tulis Kiwoom.

Dari sisi penyedia energi, PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) menjadi salah satu emiten yang mendapat perhatian. Kiwoom mencatat bisnis data center telah menyumbang 12% dari energi yang dijual POWR pada semester I 2026.

“POWR memiliki bukti paling nyata bahwa pertumbuhan data center telah menaikkan penjualan listrik di kawasan industri Jabodetabek,” tulis Kiwoom.

Meski demikian, Kiwoom mengingatkan posisi POWR sebagai pemasok listrik tidak otomatis menjadikannya penerima manfaat terbesar dari keseluruhan pertumbuhan bisnis pusat data.

Perkembangannya perlu dilihat melalui perolehan kontrak baru, tambahan kapasitas yang tersambung, serta dampaknya terhadap pendapatan dari pelanggan data center.

Peluang lainnya berada pada pengembang kawasan industri. Kiwoom memasukkan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS), PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) sebagai kelompok yang dapat memperoleh manfaat dari ekspansi data center melalui penyediaan lahan dan utilitas.

Daya tarik kawasan industri bagi investor pusat data tidak hanya ditentukan oleh lahan. Ketersediaan listrik, air, pengolahan limbah, dan konektivitas menjadi bagian dari infrastruktur yang dapat mendukung masuknya investasi.

Pendapatan pengembang dapat berasal dari penjualan lahan maupun layanan kawasan, bergantung pada kegiatan usaha dan kontrak yang dimiliki.

“Keempat emiten dapat memperoleh pendapatan dari penjualan lahan serta layanan air, pengolahan limbah, keamanan, fiber dan utilitas lainnya,” ucap Kiwoom.

Namun, besarnya kapasitas pusat data yang direncanakan di suatu kawasan tidak dapat secara langsung dianggap sebagai nilai pendapatan bagi emiten pengembang kawasan industri.

“Kapasitas MW adalah milik operator data center, bukan pendapatan emiten kawasan industri,” tambah laporan tersebut.

Sementara pada kelompok operator pusat data, PT DCI Indonesia Tbk (DCII), DSSA, dan TLKM memiliki keterkaitan langsung dengan penyediaan kapasitas serta layanan data center.

Bagi perusahaan dalam kelompok ini, kepastian pasokan listrik menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran ekspansi dan kemampuan menyediakan kapasitas bagi pelanggan.

“Kelangkaan listrik dapat memperkuat posisi DCII, tetapi juga menambah biaya dan menunda ekspansi,” tulis Kiwoom.

Karena itu, perkembangan bisnis operator perlu dilihat dari sejumlah indikator, termasuk tingkat keterisian fasilitas, kontrak dengan pelanggan, serta hasil realisasi belanja modal.

Untuk DSSA, Kiwoom menyoroti pengoperasian SMX01 dan pentingnya pengungkapan pendapatan serta laba bisnis data center secara terpisah.

Pada TLKM, Kiwoom melihat kombinasi bisnis pusat data, cloud, jaringan serat optik, serta posisi Batam sebagai penghubung Indonesia-Singapura.

Namun, realisasi fasilitas dan kontribusi bisnis tersebut terhadap kinerja perusahaan perlu dibedakan dari rencana pengembangan yang belum beroperasi.

“Kapasitas yang dirancang dan sudah beroperasi tidak boleh disamakan,” ucap Kiwoom.

Di sektor energi, sejumlah peluang masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Kiwoom mengaitkan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan rencana penyediaan energi terbarukan untuk NeutraDC Nxera Batam. Dalam laporan tersebut, kerja sama itu masih berada pada tahap kesepakatan awal.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) turut dikaitkan dengan kajian pengembangan data center yang memanfaatkan energi panas bumi.

Sementara itu, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) berpotensi memperoleh manfaat apabila pertumbuhan pusat data di Batam mendorong peningkatan penggunaan pembangkit berbahan bakar gas.

Untuk emiten-emiten tersebut, perkembangan dari rencana menuju kontrak komersial, kepastian pelanggan, jadwal operasi, hingga kontribusi terhadap pendapatan menjadi indikator yang perlu diperhatikan.

Selain peluang, Kiwoom mencatat sejumlah risiko yang dapat memengaruhi ekspansi pusat data. Risiko tersebut antara lain keterlambatan penyambungan listrik, kenaikan biaya konstruksi, keterbatasan pasokan air, serta tekanan terhadap neraca perusahaan akibat kebutuhan belanja modal yang besar.

Besarnya kapasitas yang direncanakan juga perlu dibandingkan dengan kemampuan pendanaan perusahaan dan tingkat permintaan dari pelanggan.

Dengan demikian, angka kapasitas semata belum cukup untuk menggambarkan besarnya potensi bisnis yang dapat direalisasikan emiten.

“Utamakan permintaan yang sudah terikat kontrak, kapasitas yang telah beroperasi, tingkat keterisian, kontribusi laba dan kemampuan neraca membiayai ekspansi,” tandas Kiwoom.

Porosbekasicom
Editor