Oleh: Adi Bunardi, M.Fil.I
DULU, nenek moyang kita gemetar mendengar kata Company. Lidah lokal melafalkannya dengan ngeri:
Kumpeni. Ia bukan sekadar perusahaan dagang, melainkan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)—sebuah mesin kolonial raksasa yang merampas tanah, membakar lumbung, dan menyingkirkan nyawa manusia demi mengamankan monopoli. Kita mengira hantu Kumpeni itu sudah lama mati, terkubur bersama proklamasi.
Namun di Bekasi hari-hari ini, ruh Kumpeni tampaknya bangkit kembali, merasuk perlahan ke dalam relung-relung balai kota.
Lihatlah bagaimana mesin-mesin kuning menderu, merobohkan bedeng reyot, gerobak tambal ban, dan lapak sayur pedagang kecil.
Jika Kumpeni abad ke-17 punya kebijakan “ekstirpasi“—memusnahkan kebun rempah dan permukiman warga demi mengontrol pasar—Kumpeni zaman now mengerahkan traktor untuk ekstirpasi gaya baru: membersihkan tata kota demi kenyamanan investor dan estetika etalase pembangunan.
Di mata Company berwajah birokrasi ini, pedagang kecil dan rakyat jelata tak ubahnya inlander masa lalu. Mereka dianggap warga kelas dua, noktah yang menodai kemulusan maket kota, sekadar kerikil dalam rute ekspansi tata ruang.
Wali Kota tak lagi hadir sebagai pamong yang merawat warganya, melainkan bersikap bak Gouverneur-Generaal yang menitahkan penertiban dari balik meja kerja yang dingin.
Segalanya dihitung dengan logika penaklukan. Tanah tempat rakyat kecil mengais rezeki dianggap teritori tak bertuan yang harus direbut atas nama ketertiban. Tangis dan hilangnya periuk nasi mereka tak pernah masuk dalam buku besar pembukuan kota.
Kita mungkin sudah merdeka lebih dari tiga perempat abad, tapi watak Kumpeni ternyata tak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berganti rupa.
Dulu ia datang memakai mantel wol tebal Eropa dan menenteng bedil; hari ini ia datang mengenakan seragam dinas necis berdada busung, membawa surat perintah pembongkaran, dan berdiri angkuh memandangi puing-puing rakyatnya sendiri.
Selasa 25 Agustus 2026
Disclaimer: Opini ini di luar tanggung jawab redaksi







Tinggalkan Balasan