Dalam pos

POROSBEKASI.COM – Pembangunan Jembatan Melengkung di kawasan wisata air Kalimalang, Kota Bekasi, yang semula digadang-gadang menjadi ikon wisata baru, kini justru menuai kritik.

Selain persoalan desain tanjakan yang dinilai terlalu curam, jembatan tersebut juga memunculkan pembatasan bagi kendaraan berat untuk melintas.

Kritik bermunculan setelah sebelumnya beredar video sejumlah mobil kesulitan melewati tanjakan jembatan.

Bahkan, beberapa kendaraan dilaporkan tidak kuat menanjak hingga harus bergerak mundur. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai keselamatan pengguna jalan.

Belum selesai persoalan tersebut, kini beredar informasi mengenai larangan kendaraan berat melintasi jembatan itu. Informasi tersebut diunggah akun Instagram @infobekasi dengan keterangan: “Kendaraan Berat Dilarang Melintas Jembatan Melengkung Kalimalang: Putar Balik di Jembatan Galaxi”.

Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (BMSDA) Kota Bekasi, Idi Susanto, membenarkan adanya pengaturan tersebut.

Idi menjelaskan, seluruh jembatan datar di sepanjang Kalimalang, mulai dari Jalan Ahmad Yani hingga Galaxi, nantinya akan dibongkar. Saat ini, jembatan datar yang masih tersisa hanya berada di depan Grand Metropolitan.

“Semua jembatan lama nantinya dibongkar (termasuk depan Grand Metropolitan),” kata Idi Susanto.

Dengan kondisi tersebut, kendaraan bermuatan berat tidak direkomendasikan melintasi Jembatan Melengkung. Pengendara diarahkan untuk putar balik melalui Jembatan Galaxi dan Jalan Ahmad Yani hingga pos polisi.

Kebijakan ini membuat keberadaan jembatan tersebut kembali dipertanyakan. Sebab, pembangunan infrastruktur yang seharusnya menunjang mobilitas masyarakat justru memunculkan pembatasan bagi sebagian pengguna jalan.

Padahal, Jembatan Melengkung dibangun sebagai bagian dari rencana pengembangan Kalimalang menjadi kawasan wisata air dan kuliner. Pemerintah bahkan merencanakan kehadiran wahana kapal yang akan melintas di sepanjang aliran Kalimalang.

Namun, ambisi menjadikan Kalimalang sebagai destinasi wisata baru kini berhadapan dengan persoalan fungsi infrastruktur. Aspek keselamatan dan kemudahan akses masyarakat menjadi hal yang tidak bisa dikesampingkan.

Warganet Kritik Desain Jembatan, Sebut Membahayakan Pengguna Jalan

Pembatasan kendaraan berat tersebut langsung memancing reaksi warganet. Kolom komentar unggahan @infobekasi dipenuhi keluhan yang mempertanyakan desain, keamanan, hingga manfaat pembangunan jembatan tersebut bagi masyarakat.

Sejumlah pengguna Instagram menilai pembangunan jembatan terkesan lebih mengutamakan kepentingan penataan kawasan wisata dibandingkan kebutuhan mobilitas warga sehari-hari.

Akun @dhendy.ndi bahkan mempertanyakan kebijakan yang membatasi kendaraan penyumbang pajak besar untuk melintasi jalan umum.

“Diskriminasi kpd Penyumbang Pajak Besar malah dilarang melintas jalan umum kan aneh, bangun bukit2 hanya buat menuhi Visi Misi Gak Jellas??? Jembatan lama yg dibongkar dihitung nilainya ga tuh, kan masuk aset negara juga tuh @bpkriofficial”

Sementara itu, akun @marcellinus__ menyoroti potensi bahaya akibat kondisi jalan dan jarak pandang pengendara.

“Nyusahin, blind spot, begitu turun terus langsung harus berenti hati hati mau masuk jalur kalimalang,” keluh pemilik akun.

Hal serupa disampaikan akun @adestidws yang mengaku menyaksikan langsung sebuah mobil kesulitan melewati tanjakan ketika dirinya hendak berangkat kerja.

“Kemarin pas gue lewat mau kerja ada mobil mau belok terus gak kuat alhasil mundur ngeri banget untung yg mobil belakang udah nunggu dari jauh mau belok,” tulisnya.

Akun @hikmahya yang komentarnya mendapat 40 likes juga menilai pembangunan tersebut kurang mempertimbangkan aktivitas masyarakat.

“Hanya memikirkan sesaat tidak memikirkan yg memang menjadi aktivitas warga masyarakat,” ujar pemilik akun.

“Jembatan nyusahin orang lewat aja,” sentil akun @bang.towel88.

Komentar lainnya juga menunjukkan kekecewaan terhadap desain dan kebijakan pembangunan jembatan, di antaranya:

@syhrilibrhm: “gua manggil itu jembatan, jembatan ciluk ba”

@ahmadsaipulhajat0107: “Melengkung ya melengkung, tapi jangan terlalu melengkung banget anjayyyyyy”

@vianisaanggraeni: “Proyek yg terlalu dipaksakan ya seperti nya nih wisata kalimalang”

@ridhorakhmadant: “Ngebela2in demi wisata kali bau pesing smp bikin jembatan yg mebahayakan begini”

@depras67: “Jembatan yg sangat berbahaya #jembatan #kotabekasi”

@naufalzall: “Salah satu tata kota di Indonesia”

Hingga berita ini ditulis, unggahan @infobekasi telah memperoleh 744 likes dan 39 komentar.

Deretan kritik tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Jembatan Melengkung Kalimalang bukan sekadar soal bentuk bangunan.

Masyarakat juga mempertanyakan apakah desain dan pengaturan lalu lintasnya sudah mempertimbangkan kebutuhan pengguna jalan secara menyeluruh.

Warganet pun mendesak Pemerintah Kota Bekasi mengevaluasi desain serta aspek keamanan jembatan tersebut.

Mereka meminta pemerintah tidak hanya mengejar estetika dan ambisi pengembangan wisata air, tetapi juga memastikan infrastruktur publik tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai akses yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

 

Porosbekasicom
Editor