Dalam pos

POROSBEKASI.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti sejumlah wilayah di Barito Utara, Kalimantan Tengah.

Kondisi tersebut membuat langit di kawasan Muara Teweh terlihat menguning dan mengganggu jarak pandang.

Situasi tersebut ramai dibagikan warga melalui media sosial. Sejumlah unggahan memperlihatkan kondisi jalan dan langit yang tertutup kabut asap dengan warna kekuningan.

Salah satu warga membagikan kondisi tersebut melalui akun Threads @bagusprakasaa. Dalam unggahannya, ia menegaskan warna langit yang terlihat bukan hasil penyuntingan foto.

“Untuk Pak Presiden dan warga di luar Kalimantan, ini bukan pemandangan dengan efek filter foto warm atau sephia ya. Ini kabut asap di Muara Teweh yang udah kekuningan. Dan ini kondisi real bukan yang katanya tidak seseram di sosmed,” tulisnya dalam utas yang diunggah Sabtu, 19 September 2026.

Akun yang sama kembali mengunggah kondisi Muara Teweh pada Minggu (10/9/2016). Ia menggambarkan perubahan warna langit akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut.

“Berasa lagi di Planet Mars. Emang udah pernah? Belum sih, cuma warnanya mirip,” lanjutnya.

Kabut Asap Mulai Terlihat Menjelang Siang

Unggahan lain dari akun @kur*******i memperlihatkan kondisi Barito Utara ketika kabut asap mulai menebal pada Sabtu. Dalam unggahan tersebut disebutkan kondisi itu mulai terjadi menjelang pukul 12.00 WIB.

“Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah jam 11.50 WIB. Ya Allah, turunkan hujan untuk kami, kasihani kami dan anak-anak kami,” tulisnya.

Kondisi serupa juga dibagikan akun @nao*********n. Dalam unggahannya, warga meminta doa karena kondisi kabut asap disebut semakin mengganggu aktivitas masyarakat di Barito Utara.

“19 September 2026, enggak kelihatan apapun. Temen-temen mohon doakan kami, tempat kami khususnya di Kalimantan Tengah, di Kabupaten Barito Utara hari ini keos banget. Bertahan dengan fasilitas standar warga biasa, tetanggaku punya anak 2 tahun suaminya meninggal 4 bulan yang lalu, beliau jualan di depan rumah tapi selama kabut, gak bisa jualan,” tulisnya.

Menurut unggahan tersebut, kabut asap juga berdampak terhadap aktivitas warga yang harus tetap beraktivitas di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap.

“Bayangkan ada berapa kehidupan yang terhambat mata pencahariannya karena karhutla ini. Kami bertahan dengan keadaan masing-masing, keluar rumah udah pakai masker 3 lapis tapi tetap aja pulang-pulang mata perih, masker bau asap. Mohon ampuni kami Ya Rabb,” sambungnya.

Barito Utara Naikkan Status Tanggap Darurat Karhutla

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Utara telah meningkatkan status penanganan karhutla dari siaga menjadi tanggap darurat. Status tersebut berlaku mulai 18 September hingga 2 Oktober 2026.

Bupati Barito Utara Shalahuddin mengatakan peningkatan status tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan serta kewaspadaan menghadapi potensi karhutla.

“Pencegahan harus menjadi prioritas utama dalam penanganan karhutla. Penanganan yang cepat memang sangat diperlukan ketika kebakaran terjadi, tetapi upaya mencegah munculnya titik api akan jauh lebih efektif dalam mengurangi dampak yang ditimbulkan,” tegasnya.

Sementara itu, data Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menunjukkan adanya peningkatan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Kalimantan Tengah.

Jumlah hotspot di wilayah tersebut tercatat mencapai 1.035 titik atau meningkat 166 titik dibandingkan sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat Kalimantan Tengah menjadi salah satu fokus penguatan penanganan karhutla. Operasi darat, water bombing, patroli udara, pembasahan, hingga pendinginan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.

Porosbekasicom
Editor