PorosBekasi.com – Kasatpol PP Kota Bekasi, Nesan Sujana memberikan klarifikasi terkait pernyataannya soal “kinerja Linmas tabla teble” yang akhirnya berujung polemik.
Namun alih-alih meredam situasi, penjelasan tersebut justru membuka persoalan baru terkait komunikasi internal dan kepemimpinan di tubuh Satpol PP.
Nesan menegaskan bahwa ucapannya bukan ditujukan kepada seluruh anggota Linmas, melainkan secara spesifik menyasar pejabat yang membidangi Linmas.
“Jadi itu ungkapan kekecewaan saya kepada Kabid Linmas dan Kasi Linmas,” ungkap Nesan saat dihubungi Porosbekasi.com, Rabu (6/5/2026).
Ia juga menyinggung soal bocornya pesan suara yang kini beredar luas. Menurutnya, penyebaran tersebut diduga berasal dari internal sendiri.

“Jadi voice note saya itu sepertinya disebarkan oleh salah satu anggota yang sekaligus pejabat yang membidangi Linmas,” tambah Nesan.
Klarifikasi ini disampaikan setelah sejumlah anggota Linmas mendatangi Kantor Wali Kota Bekasi untuk meminta penjelasan langsung.
Namun situasi tersebut memperlihatkan adanya celah komunikasi yang cukup serius antara pimpinan dan anggota di lapangan.
Dalam pertemuan itu, Nesan mengaku telah meluruskan maksud ucapannya sekaligus menegaskan posisi dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan.
“Saya tekankan, bahwasanya ini bagian tugas dan tanggung jawab saya, sekaligus mengingatkan rekan-rekan di Satpol PP untuk bekerja sungguh-sungguh,” ucapnya.
Meski demikian, gaya komunikasi yang digunakan dinilai tetap problematik karena berpotensi menimbulkan multitafsir dan menurunkan moral anggota, terutama ketika disampaikan dalam forum internal yang kemudian bocor ke publik.
“Jadi jangan tibang tabla teble bae kalo kerja,” sindirnya menutup pembicaraan.
Sebelumnya, puluhan anggota Linmas Kota Bekasi mendatangi kantor Pemerintah Kota Bekasi, menyuarakan protes atas pernyataan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kota Bekasi, Nesan Sujana, yang dinilai menyudutkan kinerja mereka.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @hallobekasi_, Senin 4 Mei 2026, terlihat sejumlah anggota Linmas berkumpul sambil menyampaikan kekecewaan atas pernyataan yang dianggap tidak mencerminkan kondisi kerja di lapangan.
Kontroversi bermula dari pernyataan Nesan yang menyebut kinerja Linmas tidak optimal dan hanya aktif pada momen tertentu.
Ucapan tersebut memicu reaksi keras dari para anggota Linmas yang merasa telah menjalankan tugas secara maksimal, meski dengan keterbatasan.
“Ini gimana bidang linmas, semua tidak ada linmas-nya semua tidak kerja. bagaimana mau perhatian saya kepada linmas kalau begini,” ujar Nesan, seperti terdengar dalam dalam rekaman video.
“Tolong deh kasi di linmas jangan cuma tabla-teble, cuma pada saat ada info-info tertentu pada rajin. Coba lihat, nggak ada linmasnya satupun. empat titik saya survei,” tambahnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kritik internal di institusi pemerintahan tidak hanya soal substansi, tetapi juga cara penyampaian.
Di tengah tuntutan profesionalisme aparatur, transparansi dan komunikasi yang proporsional menjadi kunci agar tidak memicu kegaduhan yang justru merusak kepercayaan publik.







Tinggalkan Balasan