Dalam pos

PorosBekasi.com – Program Kartu Keren yang dulu digadang-gadang sebagai solusi subsidi pangan bagi warga Kota Bekasi, kini justru jadi bahan gunjingan publik.

Program andalan pasangan Tri Adhianto – Harris Bobihoe itu seperti menguap tanpa jejak. Gaungnya keras saat kampanye, tapi implementasinya kini dipertanyakan.

Diluncurkan pada 26 Oktober 2024 di Bekasi Timur, Kartu Keren sempat menyedot perhatian. Konsepnya sederhana namun menjanjikan: warga bisa membeli kebutuhan pokok seperti daging ayam dan minyak goreng dengan harga lebih murah melalui gerai mitra.

Narasi yang dibangun kala itu, kartu ini bukan sekadar alat transaksi, melainkan simbol keberpihakan pada rakyat kecil.

Tri Adhianto bahkan menyampaikan ambisi besar agar kartu tersebut tak hanya berhenti pada subsidi pangan, tetapi meluas ke sektor kesehatan dan pendidikan.

“Kami berharap semoga Kartu Keren bisa semakin meluas ke depannya, bukan hanya sekadar subsidi pangan namun bisa merambah kesehatan dan pendidikan.” ungkap Tri dikutip dari media Bekasi Keren.

Namun, setelah Pilkada usai dan kursi kekuasaan diduduki, program itu justru tenggelam. Warga kini mempertanyakan kelanjutannya. Apakah Kartu Keren hanya alat mendulang simpati jelang pencoblosan?

Masyarakat Bekasi mengeluhkan program Kartu Keren yang kini senyap sejak diluncurkan 26 Oktober 2024 lalu.

Di media sosial, keluhan membanjir

Sejumlah warga mengaku masih menyimpan kartu tersebut, tetapi tak pernah merasakan manfaat yang dijanjikan.

“Ini kartu , bukti janji2 manis pejabat sebelum terpilih…..setelah terpilih …..nihil…..warga d bohongin…..katanya nnti klo mrk terpilih, kartu itu bisa d gunakan untuk blnja d supermarket , akan ada isi voucher sebesar 1 jt tiap bln nya…..tpi manaaaa ????,” tulis postingan Facebook di group Info Wilayah Keranggan Jatisampurna.

“Anteung aja bos udh jdi pejabat di pilih warga …..awas karma !!!,” celetuk lainnya.

Komentar demi komentar bermunculan, memperlihatkan kekecewaan yang kian meluas.

“Wah sama bang kita juga punya wah pas waktu kampanye juga di bilang ayam potong tebus murah ngga taunya cuma minyak sama sabun pencuci piring,” kata pemilik akun Ichan Junior.

“Setelah 1 tahun menjabat saya juga masih simpan kartu keren. Tapi masih nihil bapak Mas Tri Adhianto,” ujar Nonni Roviitaa.

“Sampai sekarang kartunya msh sy simpan utk bukti kalo sy pernah di bohongin orang yg sekarang jadi pejabat,” ucap pemilik akun Paddi Karak.

Sebagian warganet bahkan menyeret isu lain, mulai dari kondisi jalan rusak hingga tumpukan persoalan anggaran. Nada kritik makin tajam, sebagian bernuansa emosional, bahkan sarkastik.

Fenomena ini menjadi alarm serius bagi pemerintahan Tri–Harris. Program yang dulu dipromosikan sebagai bukti komitmen nyata meningkatkan kesejahteraan warga, kini justru menjadi simbol janji yang dianggap belum ditepati.

Pertanyaannya sederhana namun mendesak: di mana posisi Kartu Keren hari ini? Apakah masih dalam tahap persiapan, terkendala anggaran, atau benar-benar berhenti di tengah jalan?

Publik Kota Bekasi menunggu jawaban yang lebih dari sekadar slogan. Sebab dalam politik, ingatan warga tak pernah benar-benar hilang, apalagi ketika menyangkut janji yang pernah begitu meyakinkan.

Porosbekasicom
Editor