Dalam pos

PorosBekasi.com – Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam forum bergengsi World Economic Forum (WEF) di Davos menjadi angin segar bagi diaspora dan pemuda Indonesia di Swiss.

Momentum tersebut dipandang sebagai peluang strategis untuk memperkuat peran Indonesia di panggung global sekaligus membuka ruang keterlibatan generasi muda dalam diplomasi internasional.

Adli, mahasiswa magister management, Technology, and Economics di ETH Zurich, menilai kepemimpinan Presiden Prabowo membawa pendekatan yang terarah dan visioner dalam menghadapi dinamika global. Menurutnya, strategi yang dijalankan Presiden mencerminkan kejelasan arah kebijakan Indonesia ke depan.

“Menurut saya, Pak Presiden adalah sosok yang sangat strategis. Saya melihat bagaimana beliau mengelola prioritas, membangun hubungan dengan negara-negara mitra, serta merancang kebijakan ekonomi dengan strategi yang berlandaskan visi yang sangat jelas. Itu pandangan saya sebagai seorang mahasiswa,” tuturnya, Kamis 22 Januari 2026.

Adli juga menyoroti pentingnya kehadiran langsung Presiden RI di WEF Davos, mengingat sudah lebih dari satu dekade Indonesia absen diwakili oleh kepala negara dalam forum tersebut. Bagi diaspora, momen ini memiliki makna simbolis sekaligus strategis.

“Tentu kami sangat senang karena setelah lebih dari satu dekade, akhirnya Presiden kembali hadir di Davos untuk mengikuti World Economic Forum. Menurut saya, ini merupakan langkah besar bagi Indonesia,” ujar Adli.

Lebih jauh, ia berharap kehadiran Presiden Prabowo di Davos tidak berhenti pada simbol diplomasi semata, tetapi dilanjutkan dengan komunikasi yang berkelanjutan antara pemerintah, diaspora, dan komunitas internasional.

“Menurut saya, komunikasi seperti ini harus terus dijalin, baik dengan diaspora maupun dengan negara-negara lain,” imbuhnya.

Adli menegaskan bahwa diaspora Indonesia di luar negeri memiliki rasa kepemilikan dan kontribusi nyata bagi tanah air. Ia berharap negara semakin aktif merangkul potensi tersebut agar generasi muda Indonesia dapat tampil dan berperan di tingkat global.

“Kami mencintai Indonesia, dan kecintaan itu seharusnya bersifat resiprokal. Indonesia juga perlu mencintai serta merangkul warganya yang berada di luar negeri,” pungkasnya.

Porosbekasicom
Editor