Dalam pos

PorosBekasi.com – Kebijakan rotasi, mutasi, dan promosi jabatan di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi kembali menuai kritik tajam. Ketua Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI), Abah Zakaria, menilai langkah Wali Kota Bekasi Tri Adhianto bukan sekadar penyegaran birokrasi, melainkan sarat kepentingan politik dan praktik nepotisme yang mencederai prinsip keadilan bagi ASN.

“Saya menilai bahwa pelantikan ini berpotensi untuk pengamanan pengelolaan APBD untuk kepentingan Tri Adhianto dengan menempatkan orang-orang yang dia anggap bisa mengamankan kebijakannya, termasuk mens rea atau niatan jahat dalam penggunaan, pengelolaan, hingga pengawasan uang rakyat Kota Bekasi,” ujarnya, Kamis (30/10/2025).

Abah menilai sistem seleksi dan promosi jabatan publik seharusnya dilakukan secara terbuka, dengan mempertimbangkan profesionalisme dan rekam jejak pengabdian ASN. Namun, menurutnya, yang terjadi di Kota Bekasi justru sebaliknya.

“Faktanya, pelantikan rotasi, mutasi, dan promosi jabatan dilakukan berdasarkan kedekatan dan politis hingga nepotisme,” ujarnya.

Lebih jauh, Abah menyebut aroma “jual beli jabatan” di lingkungan Pemkot Bekasi sulit diabaikan. Ia bahkan menyinggung pembiayaan politik pada masa Pilkada yang berpotensi dibalikkan melalui praktik tersebut.

“Tidak mungkin itu tidak ada indikasi jual beli jabatan, apalagi Pilkada kemarin itu kan habis modal uang banyak, tidak sedikit. Coba kalau ada yang berani buka, ungkap yang sudah keluar uang untuk promosi jabatan atau mutasi, pasti terbantahkan itu statmen Tri Adhianto yang menantang untuk buktikan bahwa tidak ada jual beli jabatan,” tegasnya.

Menurut Abah, penempatan ASN dalam jabatan strategis semestinya dilakukan secara objektif tanpa praktik nepotisme maupun politik uang.

“Mekanisme yang dilakukan apakah sudah sesuai dengan aturan yang berlaku, termasuk aturan yang menjadi salah satu cara untuk mengatasi praktik jual beli jabatan,” tambahnya.

Abah juga menyoroti adanya dugaan penempatan keluarga dekat Tri Adhianto di posisi penting, yang memperkuat indikasi praktik nepotisme di lingkar kekuasaan.

“Contoh dia menempatkan adik kandung dan iparnya saja sudah mengarah pada nepotisme. Setelah dia belum lama menjabat Wali Kota Bekasi terpilih, langsung menempatkan kedua keluarga di posisi jabatan strategis. Fakta itu kan,” tutupnya.

Porosbekasicom
Editor