Dalam pos

PorosBekasi.com – Aktivis Bekasi, Faisal, menyebut kepemimpinan Ketua KONI Kota Bekasi, Tri Adhianto, hanya bersifat seremonial tanpa kendali substantif terhadap arah kebijakan lembaga olahraga tersebut. Ia menilai, kekuasaan di tubuh KONI telah tersentral di tangan segelintir orang.

“Wewenang pengambilan keputusan, mulai dari pembinaan atlet, dukungan sarana, hingga biaya operasional, sepenuhnya digenggam Ketua Harian Agus Irianto dan Sekretaris Arwani,” ujar Faisal dalam keterangannya, Sabtu (4/10/2025).

Kondisi itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa Ketua KONI hanya berperan simbolis sementara roda organisasi dikendalikan oleh dua figur kunci di dalamnya. Menurut Faisal, hal ini berpotensi menciptakan konflik kepentingan dan mengaburkan akuntabilitas penggunaan dana publik.

“KONI harus transparan. Setiap rupiah dana hibah yang bersumber dari APBD wajib dipertanggungjawabkan secara terbuka,” tegas Faisal.

Faisal juga menyoroti pengelolaan anggaran KONI yang dinilainya tidak jelas, termasuk dalam pembagian dana untuk masing-masing cabang olahraga. Ia mengungkap, banyak cabor harus merogoh kocek pribadi untuk menutupi kekurangan dana Pelatda, meski hibah yang diterima KONI mencapai puluhan miliar rupiah.

“Anggaran besar, tapi pembinaan mandek. Banyak cabang olahraga (cabor) justru mengeluh kekurangan dana. Pertanyaannya, ke mana sebenarnya uang itu mengalir?” ujarnya.

Menurutnya, lemahnya kontrol Ketua KONI terhadap penggunaan anggaran justru membuka peluang terjadinya praktik penyelewengan dana.

“Jika praktik seperti ini terjadi, itu bukan lagi pelanggaran administratif, tapi sudah mengarah pada tindak pidana korupsi,” tegasnya.

Faisal menegaskan perlunya reformasi tata kelola dan keterbukaan informasi publik di tubuh KONI sebagai langkah awal memperbaiki sistem yang sudah rusak.

“Transparansi bukan pilihan, tapi kewajiban. KONI harus membuka besaran, asal, dan penggunaan anggaran agar publik bisa mengawasi,” pungkasnya.

Porosbekasicom
Editor