POROSBEKASI.COM – Rencana pembangunan sodetan dari Jalan Joyo Martono, Margahayu, Bekasi Timur, menuju Kali Sasak Jarang mendapat penolakan dari warga Perumahan Bulak Kapal Permai (BKP), Kelurahan Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Warga khawatir pengaliran air dari kawasan Joyo Martono ke Kali Sasak Jarang justru menimbulkan persoalan baru berupa banjir dan merendam permukiman.
Kekhawatiran itu dituangkan warga melalui surat permohonan kepada Wali Kota Bekasi agar pembangunan sodetan dihentikan.
“Kami warga Perumahan Bulak Kapal Permai memohon wali kota Bekasi menghentikan pembangunan sodetan yang mengarahkan air ke kali Sasak Jarang. Hal ini karena dapat mengakibatkan banjir dan merendam 800 KK yang ada di BKP,” kata Eko Adi Priyono, Ketua RW 14, dikutip Rabu (7/10/2026).
Penolakan tersebut juga disampaikan warga secara langsung di lokasi proyek. Warga BKP membentangkan spanduk sebagai bentuk protes terhadap pembangunan saluran air yang menggunakan APBD Kota Bekasi dengan nilai anggaran lebih dari Rp2 miliar.
Warga secara khusus mempersoalkan rencana pembuangan aliran air dari sodetan ke Kali Sasak Jarang. Mereka menilai tambahan debit air perlu diperhitungkan agar tidak berdampak terhadap kawasan permukiman di sekitar aliran tersebut.
Pembangunan saluran air itu sendiri merupakan proyek yang diarahkan untuk mengatasi genangan di Jalan Joyo Martono, Margahayu, Bekasi Timur. Namun, rencana tersebut kini mendapat penolakan dari warga yang berada di wilayah tujuan aliran air.
Di tengah penolakan tersebut, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi memastikan pembangunan sodetan tetap dilanjutkan sesuai rencana.
Terpisah, Kepala DBMSDA Kota Bekasi, Idi Sutanto, mengatakan pembangunan saluran tersebut telah melalui kajian teknis. Menurut dia, Kali Sasak Jarang dipilih karena berdasarkan kondisi daerah tangkapan air atau catchment area, aliran dari kawasan Joyo Martono memang harus diarahkan ke kali tersebut.
Idi menjelaskan pembangunan sodetan tersebut berkaitan dengan persoalan genangan yang masih terjadi di Jalan Joyo Martono. Saluran itu dibuat untuk mengalirkan genangan dari kawasan tersebut.
Idi kembali menegaskan bahwa Kali Sasak Jarang merupakan satu-satunya pilihan yang dinilai memungkinkan untuk menjadi jalur pembuangan air dari kawasan Joyo Martono.
“Proyek telah memiliki kajian teknis, secara catchmen areanya memang buangnya harus ke situ, karena tidak ada kali yang lain lagi,” katanya kepada wartawan.
Meski proyek tetap berjalan, DBMSDA Kota Bekasi menyatakan terbuka terhadap kebutuhan teknis yang diperlukan untuk mengurangi kekhawatiran warga di sekitar lokasi pembuangan air.
Idi menyampaikan pihaknya bersedia memenuhi kebutuhan yang diperlukan untuk meminimalisasi kekhawatiran masyarakat terhadap dampak pembangunan saluran tersebut.
Dengan kondisi tersebut, pembangunan sodetan yang semula ditujukan untuk mengatasi genangan di Jalan Joyo Martono kini berhadapan dengan kekhawatiran warga di wilayah yang menjadi jalur pembuangan air.
Warga meminta proyek dihentikan karena khawatir aliran tambahan ke Kali Sasak Jarang memicu banjir hingga berdampak terhadap sekitar 800 KK di Perumahan Bulak Kapal Permai.
Sementara itu, DBMSDA Kota Bekasi tetap mempertahankan pembangunan berdasarkan kajian teknis dan menyebut Kali Sasak Jarang sebagai jalur yang paling memungkinkan untuk mengalirkan air dari kawasan Joyo Martono.







Tinggalkan Balasan