PorosBekasi.com – Dibalik hiruk pikuk kawasan Babelan yang kini padat oleh pemukiman dan lalu lintas, ada kisah heroik yang terus bergema dari masa lalu. Di Kampung Ujung Malang, Ujung Harapan, seorang anak Betawi lahir dan tumbuh menjadi sosok besar yang kelak digelari “Singa Karawang-Bekasi”.
Beliau adalah KH Noer Ali, ulama kharismatik yang menorehkan sejarah sebagai pejuang, pendidik, dan pelopor pendidikan Islam modern di Bekasi. Lahir pada 15 Juli 1914, KH Noer Ali dibesarkan dalam keluarga religius.
Sejak usia muda, ia telah menghafal Al-Qur’an dan berguru pada para ulama besar Bekasi seperti Guru Maksum dan Guru Mughni. Kecerdasan dan semangat belajarnya mengantarkannya ke Tanah Suci pada usia 20 tahun.
Semula berniat menunaikan ibadah haji, di Makkah ia justru menemukan jalan baru: memperdalam ilmu dan menyerap semangat perlawanan terhadap kolonialisme. Ia berguru pada Syekh Umar Hamdan, Syekh Ahmad Fatoni, dan Syekh Muhammad Amin Al-Quthbi, serta memimpin Persatuan Pelajar Betawi di Makkah.
Sebelum pulang ke Tanah Air, sang guru memberinya nasihat yang kelak jadi kompas hidupnya:
“Janganlah engkau mencari jabatan pemerintahan. Kembalilah menjadi pendidik bagi umatmu.”
Membangun Pesantren, Menyalakan Perlawanan
Tahun 1940, ia kembali ke Tanah Air dan mendirikan Pondok Pesantren Attaqwa di kampung halamannya. Bukan sekadar tempat belajar agama, pesantren ini juga menjadi pusat pembentukan karakter kebangsaan. Dari sinilah lahir para santri yang bukan hanya fasih membaca kitab, tapi juga siap mengangkat senjata demi kemerdekaan.
Pasca Proklamasi 1945, KH Noer Ali mendirikan Laskar Rakyat, menghimpun pemuda dari Babelan, Tarumajaya, hingga Muara Gembong. Mereka dilatih tidak hanya dengan senjata, tapi juga kekuatan spiritual, zikir, ibadah, bahkan puasa tujuh hari sebelum turun ke medan pertempuran. Perjuangan, bagi KH Noer Ali, adalah soal jiwa dan raga.
Singa Karawang-Bekasi dan Si Belut Putih
KH Noer Ali terjun langsung dalam pertempuran wilayah Karawang dan Bekasi. Dalam satu aksinya, ia memerintahkan ribuan bendera merah putih kecil ditancapkan di Rawa Gede, tanda bahwa tanah itu milik rakyat, bukan penjajah. Aksi itu memancing amarah Belanda, yang membalas dengan kekejaman, hingga terjadi tragedi Rawa Gede.
Namun rakyat menjulukinya “Singa Karawang-Bekasi”. Bagi Belanda, ia adalah “Si Belut Putih” karena gerilyanya yang sulit dilacak. Ia juga memimpin Hizbullah-Sabilillah pusat Jakarta dan terlibat dalam pertempuran melawan Inggris di Sasak Kapuk, dengan strategi sabotase dan perang gerilya yang memukul mundur pasukan asing.
Warisan yang Tak Pernah Padam
KH Noer Ali wafat pada 29 Januari 1992, di usia 78 tahun. Namun kiprah dan semangatnya tak pernah padam. Pada 2006, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional atas jasa besarnya.
Kini, pemerintah Kabupaten Bekasi tengah merancang Museum KH Noer Ali di kawasan Pesantren Attaqwa Putri, Ujung Harapan. Museum ini dirancang sebagai pusat edukasi sejarah dan inspirasi perjuangan generasi muda.
Mengabdi dengan Hati, Menolak Kekuasaan
Yang membuat KH Noer Ali dicintai umat adalah keikhlasannya. Ia menolak berbagai tawaran jabatan pemerintahan, bahkan saat diminta menjadi penghulu dan pejabat daerah. Meski sempat menjabat sebagai Plt Bupati Bekasi, ia menjauh dari politik praktis, memilih tetap menjadi guru umat.
KH Noer Ali adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya, ulama yang mengangkat senjata demi kemerdekaan, guru yang menyalakan akal dan iman, serta manusia yang hidup untuk umatnya.
Namanya akan terus hidup, bukan hanya dalam lembar sejarah, tapi juga dalam doa ribuan santri dan semangat merah putih yang terus berkibar di tanah Bekasi.







Tinggalkan Balasan