PorosBekasi.com – Persepsi investor global terhadap Indonesia mulai mengalami pergeseran signifikan. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, Indonesia justru dipandang sebagai negara berkembang yang menawarkan kepastian kebijakan dan arah investasi yang semakin terukur.
Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) Davos 2026 menjadi momentum penting bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk menegaskan perubahan tersebut.
Kehadiran Indonesia di Davos tidak semata menampilkan visi besar, tetapi menonjolkan kesiapan struktural dalam mengelola investasi jangka panjang.
Pemerintah dinilai berhasil memosisikan kebijakan ekonomi dalam kerangka yang dapat diterjemahkan langsung oleh pasar global.
Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menilai langkah Indonesia mencerminkan transisi dari pendekatan normatif menuju strategi investasi yang operasional.
Menurutnya, pelaku pasar internasional semakin selektif dan hanya merespons kebijakan yang memiliki kepastian implementasi.
“Alokator modal global pada akhirnya merespons eksekusi yang terlembaga, bukan sekadar sinyal retoris. Pendekatan Indonesia menunjukkan bagaimana niat kebijakan diterjemahkan menjadi platform investasi yang bisa dijalankan,” ujar Shan Saeed dalam keterangannya, Senin, 26 Januari 2026.
Ia menekankan, kepercayaan investor terhadap Indonesia saat ini ditopang oleh kombinasi antara kesiapan institusi dan arah kebijakan yang konsisten.
Dalam kerangka tersebut, Indonesia dinilai membangun fondasi investasi melalui tiga komponen utama: platform, pipeline, dan kredibilitas.
Pada sisi platform, pembentukan Danantara dipandang sebagai instrumen strategis untuk menarik modal institusional global.
Skema ko-investasi yang dirancang pemerintah, termasuk rencana penempatan dana hingga USD 14 miliar pada 2026, dinilai mencerminkan pendekatan pembiayaan yang berkelanjutan dan terukur.
Sumber dana dari dividen portofolio untuk pembiayaan domestik juga dipandang memperkuat daya tahan fiskal.
Adapun dari sisi pipeline, fokus investasi diarahkan pada sektor-sektor fundamental yang menopang pertumbuhan jangka panjang, seperti energi terbarukan, infrastruktur digital, kesehatan, serta ketahanan pangan. Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki resistensi tinggi terhadap guncangan ekonomi global dan sejalan dengan kebutuhan struktural nasional.
“Sektor ini relatif lebih tahan terhadap volatilitas siklus dan cocok bagi modal yang berjangka panjang dan sabar,” ujarnya.
Dimensi kredibilitas menjadi elemen penting lainnya. Indonesia dinilai menunjukkan konsistensi kebijakan melalui berbagai instrumen pendanaan berbasis pasar, mulai dari penerbitan lanjutan obligasi Patriot, penguatan peringkat kredit pada level BBB, hingga realisasi kemitraan investasi senilai sekitar USD 45 miliar.
“Langkah langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap transparansi peringkat, disiplin neraca, dan kredibilitas institusional,” ucapnya.
Dalam perspektif makroekonomi, stabilitas ditempatkan sebagai pijakan utama arah pembangunan nasional di era Presiden Prabowo. Target pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5 hingga 6 persen pada 2026 dinilai realistis dan selaras dengan proyeksi lembaga internasional.
“Indonesia kini diposisikan sebagai alokasi inti pasar berkembang, bukan sekadar transaksi taktis,” tandas Shan Saeed.
Ia menambahkan, konsistensi disiplin fiskal, independensi Bank Indonesia, serta tata kelola Danantara yang berorientasi pasar memperkuat kepercayaan investor global.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dinilai tengah bertransformasi dari destinasi investasi oportunistik menjadi tujuan investasi jangka panjang yang sistemik dan berkelanjutan.







Tinggalkan Balasan