PorosBekasi.com – Hujan boleh saja pamit sejak sore, tapi genangan di Jalan Jatimakmur, Pondok Gede, rupanya memilih untuk tetap tinggal.
Hingga pukul 20.15 WIB, Selasa, 14 April 2026, air masih nyaman menguasai badan jalan, seolah tak terpengaruh dengan cuaca yang sudah membaik.
Alih-alih ikut surut, genangan justru konsisten menunjukkan eksistensinya, sesuatu yang barangkali sulit ditemukan pada penanganan masalahnya.
Pengendara roda dua dan roda empat pun terpaksa menyesuaikan diri, memperlambat kendaraan, menghindar, atau sekadar pasrah melintasi “kolam dadakan” yang tak kunjung kering.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @info_pondokgede, terlihat jelas bagaimana air masih menggenang, seakan memiliki jadwal sendiri yang tak sinkron dengan berhentinya hujan.
“Bagaikan sebuah misteri yang tak terpecahkan bertahun-tahun, kenapa jalan tersebut masih tergenang padahal hujan sudah berhenti sekitar 3 jam yang lalu, ada apa dengan jalan tersebut wahai para pemangku jabatan Kota Bekasi,” demikian keterangan postingan, dikutip Rabu (15/4/2026).
Warganet pun tak tinggal diam. Kolom komentar berubah menjadi ruang evaluasi publik dengan nada yang tak kalah deras dari genangan itu sendiri.
“Mgkn,Selain Pengurus Warga setempat krg guyub Kerjabaktinya… Kerjanya Lurah & Camatnya layak dipertanyakan, Jgn Tidur Kelamaan, Kasih oleh2 Walikota yg dari Korea & Jepang donk @mastriadhianto itu anakbuahnya,” tulis @dhendy.n**.
“Ini lurah ma camat nya masih tidur kali yakk,, fyi @mastriadhianto @dedimulyadi71 @sekretariat.kabinet @prabowo,” ucap akun @ridwannugroho**.
“Di buat konten doang sama kelurahan dan kecamatan di kerjain kaga,” celetuk pemilik akun @eboy_a**.
“Itu makin lama makin jauh genangan nya dan makin ancur jalanan nya sudah pada bolong bikin bahaya pengendara apalagi malam hari dan tergenang … Tolong pak @dedimulyadi71 @mastriadhianto,” jelas akun @dendrie**.
“Lurahnya malas, camatnya molor, pemilik rukonya gak tg jawab. Itu lokasi hanya berjaraj 50 meter dr kelurahan jatimakmur. Lurah dan aparatnya tiap hari lewat genangan itu. Gak ada tergerak hatinya buat bereaksi perbaiki saluran air. Gimana ini pak wali @mastriadhianto, mosok harus nunggu pak gub @kdm_jawabarat @dedimulyadi71 turun tangan????,” keluh akun @gaibfil**.
“lewat situ gapernah kering,” sindir @rrzkyrmdn1**.
Fenomena ini pun menimbulkan pertanyaan klasik yang terus berulang, apakah genangan ini bagian dari “kearifan lokal”, atau sekadar bukti bahwa ada yang belum benar-benar bekerja?







Tinggalkan Balasan