“Percepatan implementasi Danantara akan menjadi faktor penting yang belum sepenuhnya tercermin dalam proyeksi lembaga internasional,” jelasnya.
Meski demikian, Fithra mengingatkan bahwa angka pertumbuhan kuartal I-2026 tidak bisa langsung dianggap sebagai indikasi penguatan struktural ekonomi. Tanpa efek basis rendah, pertumbuhan riil Indonesia diperkirakan berada di rentang 5,4 hingga 5,5 persen.
Tanda Tekanan Konsumsi Perlu Diwaspadai
Di balik proyeksi pertumbuhan yang relatif solid, sejumlah indikator menunjukkan adanya potensi pelemahan pada sisi konsumsi masyarakat yang perlu menjadi perhatian pemerintah.
Salah satu sinyal datang dari penjualan mobil pada Maret yang turun 13,8 persen secara tahunan, serta pertumbuhan kumulatif kuartal I yang hanya mencapai 1,7 persen.
Selain itu, indeks penjualan ritel modern (MSI) juga mengalami perlambatan menjadi 6,2 persen, lebih rendah dibandingkan periode tahun sebelumnya yang mencapai 7,5 persen.
Tekanan juga terlihat dari menurunnya tingkat tabungan kelompok berpendapatan rendah dalam tiga tahun terakhir, disertai penurunan kepercayaan konsumen selama tiga bulan berturut-turut. Sektor manufaktur pun menunjukkan pelemahan pada beberapa komponen PMI.
“Semua indikator ini mengarah pada melemahnya daya beli riil, yang berpotensi tertutupi oleh angka PDB secara keseluruhan,” kata Fithra.
Ia menambahkan bahwa kuartal II-2026 akan menjadi periode yang cukup menentukan, terutama dengan adanya risiko normalisasi aktivitas ekonomi pasca-Lebaran.
Dalam skenario dasar, kebijakan pemerintah masih diharapkan mampu menjaga stabilitas, namun tren penurunan tabungan masyarakat berpendapatan rendah disebut menjadi salah satu risiko utama yang perlu mendapat perhatian khusus.
“Transisi ke kuartal II akan menjadi titik penentu. Risiko terhadap daya beli harus diwaspadai, terutama dari kelompok rentan,” tandasnya.







Tinggalkan Balasan