Dalam pos

Kenapa ini bermasalah, karena:

1. Fokus terbelah, itu karena daripada konsentrasi padamkan api, tetapi malah urus beli properti baru.

2. Sumber daya terkuras, baik uang, tenaga, pikiran teralihkan.

3. Prioritas yang salah, idealnya keselamatan rumah sendiri dulu, baru ekspansi.

Dalam dunia bisnis yang sehat, ada rumus sederhana, yakni: stabilkan lalu bersihkan dan besarkan. Tetapi IFG Life terlihat melompati dua langkah pertama!

Pola yang tak kunjung belajar

IAW membaca tiga dokumen BPK di meja berisi tentang:

1. LHP Jiwasraya 2017, temuannya “rasio kecukupan modal menurun…

2. LHP Asabri 2019, temuan ketidakseimbangan aset dan liabilitas…

3. LHP IFG Life 2023, temuan itu: “proyeksi kemampuan bayar klaim menurun…”

Bahasanya sama. Pola juga sama. Hanya nama perusahaan dan tahun yang berbeda!

Pertanyaan yang menggelitik adalah, apakah kita tidak bisa belajar dari sejarah? Atau kita pura-pura lupa karena tidak mau repot? Atau kita pikir “kali ini akan berbeda” tetapi tanpa bukti?

Seorang auditor BPK pensiunan pernah bilang “kami seperti penjaga mercusuar di tengah badai. Kami teriak: ‘ada karang di depan!’ Tapi kapal tetap melaju. Nanti saat kandas, barulah semua panik.”

Wajah di dalik angka

Nasabah tidak tahu istilah “rasio kecukupan klaim“. Tapi mereka tahu rasanya, yakni seperti ini:

Bu Ani (65 tahun), janda pensiunan sebut “setiap tanggal 5 saya tunggu transfer. Buat bayar listrik, air, beli beras. Bulan lalu telat 3 hari. Saya harus pinjam tetangga. Malu.”

Pak Budi (50 tahun), anak dari peserta yang meninggal katakan “ayah saya meninggal 8 bulan lalu. Santunan asuransi katanya cair 3 bulan. Sudah 8 bulan belum juga. Saya tanya, jawabannya, ‘proses‘. Proses apa sampai 8 bulan?

Ibu Sari (42 tahun), peserta program pensiun ngomong “saya nabung 15 tahun. Katanya usia 55 bisa ambil. Sekin tahun ke-13, dapat surat, isinya ‘program direstrukturisasi, manfaat berkurang 20%’. Rasanya ditipu.”

Mereka semua tidak peduli dengan rasio. Mereka peduli janji! Mereka percaya pada negara! Tapi negara, melalui BPK, bilang: “kepercayaan Anda dalam bahaya.”