Dalam pos

PorosBekasi.com – Kemenangan dramatis Manchester United 3-2 atas Arsenal, di Emirates Stadium, Minggu (26/1), bukan sekadar mengakhiri puasa kemenangan tandang Setan Merah di markas The Gunners sejak musim 2017/18, tetapi juga mengguncang peta persaingan papan atas Liga Inggris.

Mengutip goal.com, Arsenal sejatinya memasuki laga dengan modal nyaris sempurna. Rekor kandang bersih, kepercayaan diri tinggi, serta peluang menjauh hingga tujuh poin di puncak klasemen membuat pasukan Mikel Arteta difavoritkan.

Namun di atas lapangan, prediksi itu runtuh oleh pendekatan cermat Manchester United yang tampil sabar, rapi, dan mematikan dalam transisi.

Alih-alih terjebak duel terbuka, MU memilih menunggu dan menghukum. Serangan Arsenal yang intens di awal laga berhasil diredam dengan blok rendah dan disiplin tinggi.

Setiap celah yang muncul langsung dimanfaatkan menjadi serangan balik cepat, sebuah skema yang membuat tuan rumah frustrasi sepanjang laga.

Peran Michael Carrick di pinggir lapangan menjadi sorotan utama. Ia menegaskan sejak awal tak ingin mengulang mentah-mentah taktik yang sebelumnya sukses saat menghadapi Manchester City.

“Setiap pertandingan berbeda. Tidak pernah sama, bahkan setelah 45 menit pertama yang bagus. Saya tidak suka mengatakan ‘lakukan hal yang sama lagi’ karena memang tak pernah sama,” ujarnya.

“Kami harus membangun dari situ, tidak akan sekadar salin-tempel. Saya pikir kami harus menambahkan elemen baru, harus siap, dan berada dalam performa terbaik. Jika kami dalam kondisi terbaik, kami merasa punya peluang besar,” tambahnya.

Pendekatan itu terlihat jelas di lapangan. MU memang sempat ditekan hebat di 30 menit awal, namun momen berbalik justru datang setelah gol bunuh diri Lisandro Martinez.

Dari titik itu, permainan Setan Merah berubah: lebih tenang, lebih percaya diri, dan jauh lebih efektif. Bertahan rapat, lalu menyerang dengan kecepatan dan presisi yang membuat lini belakang Arsenal kerepotan.

Matheus Cunha, yang mencetak gol penentu kemenangan, menilai Carrick sebagai figur yang benar-benar memahami DNA klub.

“Dia tahu rasanya, dia lama bermain di sini. Dia tahu Manchester, tahu United, tahu apa yang fans inginkan. Dia selalu menekankan bahwa semua orang benci kami, dan itu membuat kami semakin menyatu,” kata Cunha.

Sementara itu, Harry Maguire yang dinobatkan sebagai pemain terbaik laga juga menyoroti dampak instan sang manajer.

“Michael luar biasa. Dia datang membawa energi segar, tim benar-benar solid. Dua laga sulit, banyak yang mengira kami takkan dapat poin, tapi memenangkan keduanya itu luar biasa.”

Dua kemenangan beruntun atas lawan berat, termasuk kembali menundukkan Arsenal dengan skor identik 3-2, membuat efek Carrick kian nyata. Bagi Arsenal, kekalahan ini memunculkan kembali pertanyaan soal ketahanan mental dalam perburuan gelar.

Sementara bagi MU, kemenangan di Emirates terasa seperti lebih dari tiga poin, sebuah pernyataan bahwa mereka belum keluar dari persaingan.

Porosbekasicom
Editor