PorosBekasi.com – Sisa lumpur dan tumpukan sampah pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh mulai dibersihkan melalui kerja sama prajurit TNI dan masyarakat setempat.
Dengan peralatan sederhana seperti sekop hingga gergaji mesin, proses pembersihan dilakukan secara bertahap di berbagai titik terdampak.
Di beberapa lokasi, personel TNI memotong batang-batang kayu berukuran besar yang terbawa arus deras dan menyumbat area fasilitas publik.
Jalan raya, saluran air, masjid, hingga lingkungan sekolah menjadi fokus utama pembersihan agar kembali dapat digunakan masyarakat.
Pemulihan fasilitas pendidikan menjadi salah satu prioritas. Ruang-ruang kelas dibersihkan dari lumpur, ditata kembali, dan disiapkan agar aktivitas belajar mengajar bisa segera berjalan.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, TNI membersihkan sejumlah lokasi, antara lain TK Desa Pengidam, SDN Sungai Liput, TPQ Nurul Qolby Desa Tanjung, serta parit di Dusun Jaya Baru.
Sementara di Kabupaten Bireuen, personel TNI membantu pembersihan SDN 3 Pante Gajah dan SMKN 1 Peusangan, sekaligus membersihkan rumah-rumah warga di Dusun Teuping Ara.
Kegiatan serupa juga dilakukan di Kabupaten Pidie Jaya, meliputi Pondok Pesantren Al Bayan Desa Manyang Cut, SD Meunasah Raya, Kantor Keucik Blang Cut, serta Kantor Keucik Kecamatan Meurah Dua.
Gotong royong antara TNI dan warga turut berlangsung di sejumlah daerah lainnya, seperti Desa Pertik di Gayo Lues, Desa Jambak di Aceh Barat, SD 11 Desa Tebuk di Aceh Tengah, rumah-rumah warga Desa Bundar di Aceh Tenggara, hingga fasilitas umum Desa Uning Gelime di Kabupaten Bener Meriah.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menekankan bahwa pemulihan fasilitas publik menjadi prioritas utama pemerintah dalam penanganan pascabencana di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.
“Saya minta perhatian bahwa kalau bisa sekolah-sekolah, juga puskesmas, rumah sakit supaya bisa berfungsi secepatnya kembali,” kata Prabowo dalam rapat koordinasi di Aceh Tamiang, awal tahun ini.
Pemerintah memastikan proses pemulihan dilakukan secara cepat dan terkoordinasi, dengan mengedepankan standar keselamatan, agar masyarakat terdampak bencana di wilayah Sumatra dapat kembali menjalani aktivitas secara aman dan normal.







Tinggalkan Balasan