Dalam pos

PorosBekasi.com – Aroma tak sedap dalam penunjukan proyek pembangunan Gelanggang Olahraga (GOR) Terpadu Kota Bekasi makin kuat tercium.

Isu adanya kongkalingkong dalam proses penunjukan langsung salah satu kontraktor besar, makin ramai diperbincangkan publik.

Tak sedikit yang menilai, hubungan kedekatan antara sang pengusaha dengan Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menjadi faktor penting dalam kemenangan proyek-proyek bernilai jumbo.

Bahkan, muncul sindiran dari sejumlah kalangan, seandainya Tri menjabat lima periode pun, belum tentu sanggup mengembalikan uang milik sang kontraktor.

“Lima Periode dia (TA) Jadi wali kota pun, mungkin belum kebalik duit (DS) itu,” ungkap sumber yang enggan disebutkan namanya, Rabu (9/7/2025).

Indikasi kuat permainan proyek makin terlihat dari kemenangan sejumlah perusahaan kontraktor tertentu dalam lelang proyek pembangunan GOR Terpadu yang dibagi dalam tiga tahap anggaran berbeda.

Diduga kuat, perusahaan-perusahaan pemenang tersebut masih berada dalam satu lingkaran mitra kerja lama Tri Adhianto, saat ia menjabat Kepala Dinas PUPR Kota Bekasi.

Rinciannya, pada APBD 2023, pemenang proyek tahap pertama senilai lebih dari Rp 10 miliar adalah PT Manesa Green Abadi, yang beralamat di Ciketing, Mustikajaya, Bekasi.

Tahun 2024, proyek tahap kedua senilai Rp 50 miliar dimenangkan oleh PT Citra Karya Agung (PT CKA), berkantor di Banda Aceh.

Terakhir, untuk tahun anggaran 2025, proyek tahap ketiga senilai Rp 66 miliar jatuh ke tangan PT Bona Jati Mutiara, yang kembali beralamat di Ciketing, Mustikajaya, lokasi yang sama dengan pemenang proyek tahap pertama.

Tak hanya itu, belanja untuk jasa konsultan pun menyedot anggaran yang tidak sedikit. Selama tiga tahun berturut-turut, Disperkimtan Kota Bekasi tercatat menghabiskan hampir Rp 2 miliar hanya untuk jasa konsultan proyek ini.

Pada 2023, konsultan menyerap anggaran Rp 180 juta, di luar biaya pembangunan tahap awal yang mencapai Rp 9,4 miliar. Tahun 2024, jasa konsultan menghabiskan Rp 600 juta lebih, sementara biaya pembangunan naik menjadi Rp 48,2 miliar.

Sedangkan untuk tahun 2025, dana untuk konsultan diperkirakan menembus Rp 1 miliar, dengan rencana anggaran pembangunan mencapai Rp 66 miliar lebih.

Jika seluruh biaya jasa konsultan dijumlahkan, total anggaran yang telah dikucurkan mencapai hampir Rp 2 miliar, angka yang memicu pertanyaan besar soal efektivitas dan transparansi perencanaan proyek.

Porosbekasicom
Editor