PorosBekasi.com – Warga RT 03 RW 01 Duren Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, mendesak adanya evaluasi terhadap kinerja aparat wilayah setempat, menyusul persoalan genangan air di Jalan Prof M Yamin yang dinilai belum terselesaikan secara tuntas.
Keluhan itu disampaikan Wanda, warga sekaligus pengurus RT 03, yang mengaku telah berulang kali menyampaikan laporan mengenai kondisi jalan yang kerap tergenang. Menurutnya, persoalan tersebut bukan hanya mengganggu kenyamanan warga, tetapi juga berpotensi membahayakan pengguna jalan.
“Beberapa bulan lalu saya sudah sampaikan keluhan genangan jalan itu langsung ke Sekcam Bekasi Timur, karena katanya camat tidak ada saat itu. Padahal saya cuma mau laporan aja untuk keamanan dan kenyamanan warga Kota Bekasi, bukan mau minta duit,” ujar Wanda, Kamis, 4 Juni 2026.
Menurutnya, setelah menyampaikan aduan kepada Sekretaris Camat, dirinya juga berupaya melaporkan kondisi serupa secara langsung kepada pihak Kelurahan Duren Jaya dan Kecamatan Bekasi Timur. Namun, ia tidak mendapatkan respons yang diharapkan.
Bahkan, Wanda mengaku nomor WhatsApp miliknya justru diblokir setelah menyampaikan laporan kepada Camat Bekasi Timur Halimatussadiyyah.
“Nomor saya diblokir karena saya laporan via WhatsApp, padahal kata Walikota Zero Lapor, Astaghfirullah,” ucap Wanda yang juga pengurus Tahfiz Alqur’an di wilayahnya.
Tak berhenti di situ, Wanda juga sempat menyampaikan langsung persoalan tersebut kepada Lurah Duren Jaya Yahya Rachmansyah Lubis saat kegiatan penataan kabel udara di kawasan Taman Cut Mutia. Ia menyoroti genangan yang muncul hampir setiap hari dan menimbulkan bau tidak sedap.
“Lurah pun sama, responnya tidak memuaskan. Justru cuma bilang kalau lapor sama RT saja, air WC itu pagi-pagi selain bau jengkol itu juga membahayakan pengguna jalan di palang pintu kereta api M Yamin. Padahal udah laporan sejak lama, gak ada tindaklanjutnya,” ucap Wanda menirukan ucapan Lurah Duren Jaya.
Menurutnya, kondisi tersebut bahkan masih ditemukan di sekitar area kantor kelurahan. “Di depan kantor kelurahan saja tuh ampar-amparan kalau pagi atau sore, tapi lurah-nya gak bisa tanggulangin,” tambahnya.
Wanda menilai penanganan persoalan lingkungan seharusnya tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah daerah. Ia menyebut pemerintah wilayah dapat mengambil langkah koordinatif dengan melibatkan RT/RW hingga pelaku usaha di sekitar lingkungan.
“Harusnya punya kekuatan setrategi kerja dengan bisa panggil RT-RW untuk diajak kerja bakti, panggil para pelaku usaha diminta untuk bertanggung jawab untuk bersama-sama, jadi jangan cuma ngarepin APBD melulu,” tambahnya.
Lebih jauh, Wanda membandingkan kepemimpinan camat saat ini dengan pejabat sebelumnya yang menurutnya lebih responsif terhadap laporan masyarakat.
“Camat yang sekarang agak Samek, beda dengan Camat Fitri yang sopan dan mengayomi. Maka tolong agar lurah dan camat-nya dievaluasi,” tandasnya.
Di tengah kemudahan akses komunikasi digital saat ini, warga berharap saluran pengaduan melalui pesan singkat maupun media komunikasi lainnya dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menampung dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat.







Tinggalkan Balasan