Dalam pos

PorosBekasi.com – Selama puluhan tahun, hubungan antara Soeharto dan Megawati Soekarnoputri kerap dikaitkan dengan rivalitas politik.

Namun rekam jejak berbagai peristiwa menunjukkan dinamika yang jauh lebih berlapis, mulai dari pengakuan politik hingga ikatan personal antarkeluarga.

Meski Megawati memasuki PDI di tengah kuatnya dominasi Orde Baru, justru pada masa itulah ia memperoleh legitimasi penting dari Soeharto setelah terpilih sebagai Ketua Umum PDI.

Setelah Kongres Luar Biasa pada Desember 1993 dan dukungan besar dari pengurus daerah, Soeharto secara terbuka menyatakan tidak keberatan atas kepemimpinan Megawati, sebuah sinyal kuat bahwa pemerintah mengakui posisinya secara resmi.

Hubungan dua keluarga besar ini juga memiliki sisi humanis yang jarang diulas. Interaksi hangat antaranggota keluarga Soekarno dan Soeharto berlangsung dalam suasana kekeluargaan, jauh dari gambaran konflik yang sering diasumsikan publik.

Momen kebersamaan antara Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) dan Megawati mencerminkan kedekatan dua sosok perempuan yang memimpin organisasi besar, bahkan ketika arena politik tengah bergejolak.

Porosbekasicom
Editor