Dalam pos

PorosBekasi.com – Indonesia pernah dijuluki sebagai negara “super power” di bidang budaya oleh UNESCO, sebuah pengakuan dunia atas kekayaan tradisi dan warisan peradaban yang dimiliki negeri ini.

Julukan itu bukan sekadar simbolis, dari situs prasejarah hingga kuliner, dari tarian sakral hingga arsitektur adat, bentang budaya Nusantara terbentang luas dan dalam.

Namun ironi pun mencuat, potensi budaya yang luar biasa ini belum sepenuhnya menjadi kekuatan utama bangsa. Alih-alih dimanfaatkan sebagai modal pembangunan, nilai-nilai budaya masih kalah digali dibanding eksploitasi sumber daya alam. Peradaban kita kaya, tetapi belum dijadikan fondasi strategis dalam pembangunan nasional.

Dalam diskusi bertajuk “Menggali Peradaban, Menapak Masa Depan” yang digelar di Bentara Budaya Jakarta, pada Senin (30/6), Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Restu Gunawan, menekankan bahwa penguatan identitas bangsa lewat diplomasi budaya adalah keharusan. Ia mengingatkan, pengembangan kebudayaan tidak bisa menjadi beban tunggal pemerintah.

Kolaborasi

Senada, arkeolog dari Universitas Indonesia Ali Akbar menekankan pentingnya kolaborasi lintas bidang dan lintas generasi untuk mempercepat upaya pelestarian budaya. Ia mengingatkan bahwa pelibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat umum, akademisi, dan pelaku industri kreatif, akan memperkaya sudut pandang dalam menggali dan menghidupkan warisan budaya.

Penemuan lukisan gua tertua di dunia di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan, adalah contoh nyata bahwa kemajuan teknologi bisa membantu membuka kembali jejak peradaban yang telah lama tersembunyi.

“Yang diperlukan sekarang itu adalah kolaborasi sebenarnya. Kalau pemerintah doang yang melakukan pelestarian, ya, kita tahulah anggaran pemerintah cuma segitu. Makanya kita berikan kesempatan kepada pengunjung untuk terlibat,” ucap Ali, dikutip Kompas, Sabtu, 2 Juli 2025.

Salah satu langkah konkret yang bisa dilakukan adalah menjadikan museum lebih interaktif. Koleksi-koleksi tidak hanya dipajang, tetapi juga bisa dinarasikan oleh pengunjung. Dengan demikian, museum tidak sekadar tempat melihat benda mati, tetapi ruang partisipatif yang menghidupkan kembali cerita-cerita leluhur.

Inovasi

Penulis Dhianita Kusuma Pertiwi juga menyoroti pentingnya inovasi dalam menyampaikan kebudayaan. Generasi muda harus diberi ruang untuk menafsirkan ulang warisan budaya dalam konteks masa kini. Menurut Dhianita, sastra adalah medium yang efektif untuk merekam dan membangkitkan narasi budaya dengan pendekatan kreatif.

“Kebudayaan atau sejarah itu juga enggak statis, enggak sepaten itu. Dalam konteks sastra, eksplorasi dan ’main-main’ itu masih sangat diperlukan agar kita menjelajahi masa lalu sekaligus meraba ke masa depan,” kata Dhianita.

Kolaborasi antara masa lalu dan masa depan inilah yang akan menjadi kunci kemajuan kebudayaan Indonesia.

Porosbekasicom
Editor