PorosBekasi.com – Pergerakan fiskal pada triwulan I-2026 menunjukkan arah ekspansi yang tetap terkendali. Pemerintah dinilai mampu mendorong roda ekonomi nasional tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menilai kombinasi peningkatan belanja dan penerimaan negara menjadi indikator positif bagi prospek ekonomi ke depan.
“Perkembangan yang terjadi saat ini memberikan sinyal positif. Penyerapan belanja pemerintah naik, penerimaan negara juga tumbuh tinggi, sehingga gairah pergerakan ekonomi memberikan harapan baik ke depan,” ungkap Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, dalam keterangannya, Rabu 8 April 2026.
Data Kementerian Keuangan mencatat, penerimaan negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan.
Kinerja tersebut terutama ditopang oleh penerimaan pajak yang melonjak 20,7 persen menjadi Rp394,8 triliun.
“Pencapaian ini memberikan ruang fiskal yang lebih sehat untuk menopang belanja yang meningkat,” kata Christiantoko.
Dari sisi pengeluaran, realisasi belanja negara mencapai Rp815,0 triliun, naik 31,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Meski terjadi peningkatan, Christiantoko menilai level defisit tersebut masih dalam batas aman.
“Jika dicermati secara utuh, angka tersebut justru mencerminkan strategi fiskal yang terukur,” ujarnya.
Ia menegaskan, lonjakan belanja di awal tahun merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Defisit yang terjadi pun dinilai masih sepenuhnya dalam kendali.
Sepanjang Januari hingga Maret, realisasi belanja telah mencapai 21,2 persen dari target tahunan, lebih tinggi dibanding rata-rata triwulan I pada tahun-tahun sebelumnya yang berada di kisaran 17 persen.
“Belanja yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan adanya upaya ekspansif yang memang diperlukan, terutama di awal tahun, untuk menjaga momentum pemulihan dan memperkuat daya dorong ekonomi domestik,” papar Christiantoko.
Peningkatan belanja juga terlihat pada program-program strategis, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), yang memberi efek berganda terhadap aktivitas ekonomi.
Selain itu, faktor musiman seperti Ramadan dan Lebaran turut mendorong akselerasi belanja pemerintah.
Pada periode tersebut, pemerintah menggulirkan stimulus senilai Rp15 triliun guna menjaga konsumsi masyarakat, mulai dari bantuan pangan, diskon transportasi, hingga pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN, TNI, dan Polri.
“Belanja pemerintah yang lebih tinggi menjadi pendorong penting untuk menjaga daya beli dan memperkuat perputaran ekonomi,” ucap Christiantoko.
Di tengah ekspansi tersebut, komitmen terhadap disiplin fiskal tetap dijaga, salah satunya melalui pengendalian defisit di bawah ambang batas 3 persen dari PDB.
“Dengan demikian, defisit sebesar 0,93 persen pada triwulan I-2026 harus dilihat bagian dari strategi kebijakan fiskal yang terukur. Selama dikelola secara hati-hati dan tetap dalam batas yang telah ditetapkan, langkah ini justru berpotensi memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan,” tutupnya.







Tinggalkan Balasan