PorosBekasi.com – Kasus dugaan pelecehan seksual menyeret oknum pelatih pramuka di SMPN 4 Kota Bekasi. Setelah kesaksian sejumlah pihak mulai mencuat, amarah warganet pun ikut meledak dan mendesak agar kasus ini tidak ditutupi.
Salah satu saksi berinisial R mengungkapkan, bahwa peristiwa tersebut diduga sudah berlangsung sejak lama, namun baru terungkap ke publik pada awal 2026. Ia menyebut kejadian terakhir diduga terjadi pada Oktober 2025.
“Awalnya korban cerita ke salah satu orang tua murid, lalu informasi itu menyebar ke pihak lain sampai akhirnya kami tahu siapa pelakunya,” ujar R dikutip akun Instagram @wowbekasi, Jumat (3/4/2026).
R juga menyebutkan adanya lebih dari satu korban dalam kasus ini. Bahkan salah satunya sudah berstatus alumni, sementara satu korban lainnya masih aktif sebagai siswa kelas 9.
“Korban ada dua yang paling parah. Yang satu sudah alumni, yang satu lagi masih sekolah,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, terduga pelaku merupakan pelatih yang aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler siswa, termasuk pramuka dan paskibra.
Kondisi ini membuat publik semakin geram karena pelaku diduga memiliki akses langsung terhadap siswa.
Meski informasi telah beredar di lingkungan internal, R mengaku korban dan keluarga masih takut membawa kasus ini ke jalur hukum. Minimnya bukti serta tekanan sosial menjadi alasan utama.
“Kita juga nggak berani bawa ke hukum karena bukti belum kuat, dan korban juga takut,” katanya.
Namun yang paling menyulut reaksi keras publik adalah lambannya penanganan dan kekhawatiran adanya pembiaran. Netizen ramai-ramai menuntut agar aparat dan pihak sekolah tidak menutup mata.
Di sisi lain, organisasi Pramuka Raider Four yang menaungi oknum tersebut telah mengeluarkan keputusan tegas dengan memberhentikan pelatih berinisial AF (Kak Fandy) sejak 20 Januari 2026.
Dalam pernyataan resminya, organisasi menyebut keputusan itu diambil setelah ditemukan pelanggaran serius berupa dugaan pelecehan seksual.
“Langkah ini diambil setelah organisasi menilai adanya pelanggaran fundamental,” tulis pernyataan tersebut.
Pramuka Raider Four juga menegaskan bahwa segala aktivitas yang dilakukan oleh yang bersangkutan setelah tanggal pemberhentian tidak lagi menjadi tanggung jawab mereka.
Namun hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan keterangan resmi, yang justru semakin memperkuat kritik publik terhadap sikap diam institusi pendidikan.
Sementara itu, kolom komentar media sosial dipenuhi kecaman keras dari warganet yang menilai kasus ini tidak boleh dibiarkan berlarut.
“usut tuntas deh,” tulis pemilik akun @rfkaa**.
“kacau malu maluin pramuka lu, mana pake seragam lagi tu foto,” ucap @strongboy**.
“Kebanyakan nonton bokep kaya.a doi makan.a jadi pedopil,” sindir @egaagung**.
“Ga nyangka bgt, padahal udah bawa nama sekolah nya tinggi,” ujar @dedebuka**.





Tinggalkan Balasan