Dalam pos

Porosbekasi.com – Kawasan Hutan Kota Bekasi yang terletak di jantung kota, tepat di depan kantor wali kota, kondisinya dari hari ke hari semakin memprihatinkan.

Pemandangan yang tersaji nampak kumuh. Pagar tembok yang rusak hingga menjamurnya lapak pedagang kaki lima, memperlihatkan ketidakseriusan Pemkot Bekasi dalam merawat ruang terbuka hijau.

Terdapat pula tumpukan sampah yang tidak terangkut, fasilitas umum yang terbengkalai, dan deretan warung tenda yang berdiri liar di depan Gedung Cevest.

Ironisnya, kawasan ini menjadi titik kumpul warga setiap Minggu pagi dalam gelaran Car Free Day (CFD). Alih-alih menghirup udara segar dan pemandangan sejuk, warga justru mendapat kebalikannya.

“Kondisinya makin parah. Kumuh, jorok, tidak terawat, seperti pembiaran,” ujar Aang, salah satu warga yang rutin berolahraga di lokasi, Senin (9/6/2025).

Menurutnya, keberadaan GOR Terpadu dan kios-kios kuliner di dalam kawasan justru menambah kesan semrawut. Apalagi beberapa di antaranya merupakan lokasi kebakaran yang hingga kini belum direvitalisasi.

Pedagang liar pun makin leluasa menguasai trotoar dan ruang publik. Ironisnya, pemandangan yang sangat jelas di depan mata ini seolah luput dari perhatian Pemkot Bekasi.

“Ini kan depan kantor wali kota. Dan karena wali kotanya Ketua KONI, istrinya Ketua KORMI, yang aktivitasnya bersebelahan dengan hutan kota, masa iya mereka tidak tahubsama sekali kondisinya? Dan sudah berapa lama mereka menjabat, pasti tahu dong?” keluh Lukman, warga lainnya.

Sorotan publik pun semakin tajam mengingat alokasi APBD setiap tahun untuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi tidak kecil.

Namun, kondisi kawasan Hutan Kota yang dibiarkan rusak dan kumuh memunculkan dugaan pembiaran sistematis, bahkan ketidakefektifan dalam penggunaan anggaran.

Masyarakat pun mendesak agar Pemkot Bekasi, khususnya DLH, segera mengambil tindakan konkret untuk mengembalikan fungsi Hutan Kota sebagai ruang hijau yang layak, bersih, dan tertib.