Dalam pos

PorosBekasi.com – Lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik di Timur Tengah mulai memicu kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal Indonesia.

Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mendorong harga minyak global melonjak hingga mendekati USD 120 per barel pada awal pekan ini.

Kondisi tersebut langsung memberi tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Pemerintah sebelumnya menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD 70 per barel.

Ketika harga minyak melesat jauh di atas asumsi tersebut, beban belanja negara berpotensi meningkat tajam.

Namun riset lembaga kajian Next Indonesia Center menyebut APBN masih memiliki ruang bertahan, meski tekanan fiskal diperkirakan tetap meningkat.

Belajar dari Perang Rusia–Ukraina

Direktur Eksekutif Next Indonesia Center, Christiantoko, menjelaskan pengalaman lonjakan harga energi saat pecahnya Rusia–Ukraina War dapat menjadi gambaran bagaimana APBN merespons gejolak global.

Dalam kajian tersebut disebutkan, setiap kenaikan ICP sebesar USD 1 per barel berpotensi menambah belanja negara sekitar Rp10,3 triliun.

Sementara dari sisi penerimaan, negara hanya memperoleh tambahan sekitar Rp3,5 triliun dari pajak dan PNBP migas. Artinya, selisihnya berpotensi memperlebar defisit sekitar Rp6,8 triliun.

Pada 2022, harga minyak sempat menyentuh USD119 per barel pada pekan kedua perang Rusia–Ukraina. Dibutuhkan sekitar enam bulan hingga harga kembali stabil.

Porosbekasicom
Editor