Dalam pos

PorosBekasi.com – Rencana pengiriman ribuan pasukan perdamaian Indonesia ke Gaza dinilai berpotensi mengubah dinamika geopolitik di kawasan tersebut.

Pengamat militer Khairul Fahmi menilai kehadiran personel Indonesia justru dapat menjadi faktor penghalang terhadap ambisi kelompok garis keras di Tel Aviv yang disebut ingin memperluas kontrol atas wilayah Gaza.

Menurut Khairul, rencana pengiriman hingga 8.000 personel sebagai bagian dari misi International Stabilisation Force (ISF) akan berdampak langsung pada ruang gerak militer Israel di lapangan, khususnya terkait isu pemindahan paksa warga Palestina.

“Tujuan akhir faksi kanan ini jelas, yaitu membangun kembali permukiman Yahudi di atas puing-puing Gaza (aneksasi). Kehadiran 8.000 tentara Indonesia adalah antitesis mutlak dari skenario tersebut,” kata Khairul, Senin (16/2/2026).

Pengamat militer sekaligus Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) itu menilai keberadaan pasukan asing, terlebih dari negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, akan menjadi hambatan baik secara politik maupun fisik bagi rencana penguasaan wilayah tersebut.

Mengacu pada laporan yang dimuat The Guardian, pasukan Indonesia disebut direncanakan ditempatkan di wilayah selatan Gaza, tepatnya di koridor antara Rafah dan Khan Younis.

Khairul menilai kawasan itu merupakan titik strategis yang dapat menentukan kontrol pergerakan di wilayah tersebut.

“Kehadiran fisik ribuan personel TNI di koridor ini akan secara efektif memutus rantai kontrol Israel dan mencegah manuver pengusiran penduduk,” kata dia.

Menurutnya, keberadaan TNI tidak hanya berfungsi sebagai penjaga stabilitas, tetapi juga memiliki makna politik karena menandai pengakuan de facto terhadap wilayah tersebut sebagai tanah Palestina, bukan wilayah tanpa kedaulatan.

“Inilah tembok geopolitik yang membuat sayap kanan Israel gerah,” ujar Khairul.

Dalam pemberitaan internasional pada awal Februari, sejumlah tokoh garis keras Israel disebut menolak keras rencana keterlibatan Indonesia dalam ISF.

Penolakan serupa juga pernah disuarakan tokoh advokasi pro-Israel di Amerika Serikat yang menilai pengiriman pasukan Indonesia sebagai langkah yang merugikan kepentingan Israel.

Khairul menilai fakta adanya penolakan dari kelompok garis keras justru menunjukkan bahwa kehadiran Indonesia memiliki arti strategis.

Ia menilai kekhawatiran sebagian pihak di dalam negeri yang menganggap Indonesia sedang masuk ke dalam skenario geopolitik negara besar tidak sepenuhnya tepat.

Menurutnya, reaksi keras dari kelompok kanan Israel justru mengindikasikan bahwa keterlibatan Indonesia berpotensi memperkuat posisi pengawasan internasional di Gaza serta membatasi manuver sepihak di lapangan.

Porosbekasicom
Editor