PorosBekasi.com – Kota Bekasi kembali diuji oleh persoalan klasik yang tak kunjung tuntas: jalan rusak dan berlubang di berbagai ruas utama. Kondisi ini bukan hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga memakan korban pengendara, terutama pengguna sepeda motor yang kerap terjebak lubang menganga tanpa peringatan memadai.
Di sejumlah titik, warga bahkan mengambil inisiatif sendiri, mulai dari menanam pohon, memasang tanda darurat, hingga menyebarkan informasi di media sosial sebagai bentuk protes atas lambannya respons Pemerintah Kota Bekasi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Gelombang kekecewaan itu meluap di jagat maya. Kolom komentar media sosial dipenuhi kritik keras yang tak sekadar menyoal kualitas jalan, tetapi juga menyinggung dugaan praktik korupsi dalam proyek perbaikan infrastruktur.
Salah satunya pada unggahan di akun Instagram @infopondokgede, yang dibanjiri komentar warganet. Banyak di antaranya yang sudah jenuh dengan kondisi jalanan rusak di Kota Bekasi, yang seolah menjadi warisan turun temurun.
“Pondokgede pajak tinggi tapi dibarengi sama korupsi juga, apalagi yang kerjain kontraktor kerjain jalan banyak ambil untung, makanya jalan belum sebulan udah rusak,” ucap pemilik akun @baladewa8**.
“Contohnya depan Hankam,belum setahun jalan udah pada rusak,” tambahnya lagi.
Sindiran juga diarahkan langsung ke pucuk pimpinan daerah. Sejumlah warganet mempertanyakan komitmen pemerintah dalam menjaga fasilitas publik, bahkan di kawasan simbol kekuasaan.
“Walikotanya min yang aneh, Jalan raya depan kantor Walikota aja lobang semua,” sindir @ibnurifqir.
Kritik tak berhenti di situ. Seorang pengguna media sosial lain menyoroti pola yang dianggap janggal: pejabat dinilai lebih sigap mengurus proyek ketimbang menjawab keluhan masyarakat.
Pemilik akun @ateksitekn** menyinggung pejabat pemerintahan yang kerap lebih cepat menanggapi urusan proyek ketimbang keluhan warga yang menurutnya melakukan pembiaran pada jalan-jalan yang rusak.
“Urusan perbaikan, peremajaan hilang semua pejabat, coba urusan proyek pada cepet bergerak,” sindirnya.
Nada kecurigaan makin tajam ketika dugaan permainan anggaran kembali diungkit.
“Mengaja dibikin rusak biar 6 bulan duitnya cair,” sindir @diosatria0**.
Tak sedikit pula warganet yang secara terbuka melabeli Bekasi dengan stigma buruk.
“Bekasi kota korupsi, dan itu fakta!!!,” celetuk @ra.hid1**.
“Banyak lobang tikus, Lobangnya dijalan,tikusnya dikantor,” sahut @created_**.
Berdasarkan keluhan warga, kerusakan jalan tidak hanya terjadi di Jalan Raya Jatiwaringin Pondokgede hingga Jalan Raya Jatiasih. Lubang-lubang juga ditemukan di sejumlah ruas strategis lain seperti Jalan Ahmad Yani hingga kawasan Sumarecon, wilayah dengan lalu lintas padat dan aktivitas ekonomi tinggi.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: sampai kapan jalan rusak dibiarkan menjadi “agenda tahunan” tanpa evaluasi serius? Di tengah derasnya kritik publik, masyarakat kini menunggu langkah konkret, bukan sekadar tambal sulam yang kembali rusak sebelum usia satu tahun.







Tinggalkan Balasan