Dalam pos

Deretan komentar tersebut menggambarkan kekecewaan publik terhadap pola penanganan banjir di Kota Bekasi yang dinilai masih berulang setiap tahun.

Seorang lansia bernama Namat bin Rini (79), warga Jalan Halmahera RT 07 RW 06, Aren Jaya, Bekasi Timur, bahkan harus meregang nyawa akibat terseret arus banjir yang cukup deras.

Peristiwa tersebut seharusnya menjadi pengingat, bahwa banjir di Kota Bekasi bukan sekadar persoalan genangan, melainkan telah mengancam keselamatan jiwa.

Karenanya warganet menilai kehadiran pemerintah daerah lebih banyak terlihat di media sosial, sementara solusi jangka pendek dan jangka panjang belum dirasakan langsung oleh warga terdampak.

Langkah strategis, seperti normalisasi dan pengerukan sungai, pembenahan sistem drainase secara menyeluruh, penertiban bangunan di sempadan sungai, hingga transparansi program pengendalian banjir, harus segera direalisasikan.

Diketahui, curah hujan tinggi yang mengguyur Kota Bekasi, sejak Minggu (18/1), kembali memicu banjir dan genangan air di berbagai wilayah. Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas warga, termasuk terganggunya mobilitas dan arus lalu lintas.

Berdasarkan data BPBD Kota Bekasi sedikitnya sembilan kecamatan dilaporkan terdampak banjir dengan ketinggian air bervariasi.

Sejumlah kawasan permukiman tergenang akibat luapan air serta sistem drainase yang dinilai belum optimal.

Situasi ini tentunya kembali menegaskan, bahwa banjir sebagai persoalan lama yang belum terselesaikan secara menyeluruh.

Warga pun berharap pemerintah daerah tidak hanya hadir melalui pemantauan dan unggahan media sosial, tetapi mampu menghadirkan tindakan nyata dan berkelanjutan agar bencana banjir tidak terus berulang setiap musim hujan.

Porosbekasicom
Editor